Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran sejak 28 Februari 2026, yang terus berlanjut hingga Senin, 2 Maret 2026. Operasi ini menargetkan fasilitas nuklir, rudal balistik, infrastruktur militer, serta kepemimpinan Iran.
Dalam serangan awal pada Sabtu, 1 Maret 2026, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas. Selain itu, sekitar 40 pejabat senior rezim Iran lainnya juga dikabarkan tewas dalam gempuran tersebut. Komando Pusat AS mengumumkan bahwa markas besar Garda Revolusi Iran (IRGC) telah dihancurkan, sementara Israel mengklaim operasi gabungan ini memberikan “pukulan telak” terhadap sistem komando dan kendali Teheran.
Trump Klaim Iran Ingin Bernegosiasi di Tengah Konflik
Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi kematian Khamenei pada Minggu, 1 Maret 2026, dan menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga semua tujuan tercapai. Dalam sebuah wawancara dengan Daily Mail, Trump memperkirakan bahwa perang melawan Iran dapat berlangsung hingga satu bulan.
“Ini memang selalu merupakan proses empat minggu. Kami memperkirakan akan berlangsung sekitar empat minggu. Ini selalu tentang proses empat minggu, jadi—sekuat apa pun itu, ini negara besar, akan memakan waktu empat minggu—atau kurang,” kata Trump.
Di tengah eskalasi ini, Trump mengklaim bahwa “kepemimpinan baru” Iran telah menghubungi Washington untuk membuka jalur pembicaraan. “Mereka ingin bicara, dan saya setuju untuk bicara,” ujar Trump dalam wawancara telepon dari Mar-a-Lago pada Sabtu, 1 Maret 2026, seperti dilaporkan The Atlantic. Namun, ia menolak memberikan jadwal pasti kapan diskusi tersebut akan berlangsung, sembari mengakui bahwa banyak negosiator Iran sebelumnya kini “sudah tidak ada.”
Iran Membantah dan Melancarkan Serangan Balasan
Bertolak belakang dengan klaim Trump, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, dengan tegas membantah adanya upaya Teheran untuk memulai kembali negosiasi dengan Washington. Melalui unggahan di platform X pada Senin, 2 Maret 2026, Larijani menyatakan, “Kami tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat.”
Larijani juga melontarkan kritik tajam kepada Trump, menuduhnya telah menjerumuskan kawasan ke dalam kekacauan dengan “fantasi delusional” dan mengorbankan tentara Amerika demi kepentingan “Israel First.” Ia menambahkan bahwa “hari ini rakyat Iran membela diri dan angkatan bersenjata Iran tidak memulai invasi.”
Sebagai respons atas serangan AS-Israel, Iran telah melancarkan serangan balasan rudal dan drone ke Israel serta sejumlah negara Teluk lainnya pada 1 Maret 2026. Serangan ini menewaskan sedikitnya sembilan warga Israel dan melukai puluhan lainnya di dekat Yerusalem.
Dampak Konflik dan Latar Belakang
Konflik yang memanas ini telah menimbulkan dampak luas, termasuk terganggunya sektor pelayaran dan penerbangan, serta memicu ketidakpastian harga minyak global. Tiga personel militer AS tewas dan lima lainnya terluka serius dalam operasi ini, menandai korban pertama dari pihak AS sejak kampanye militer dimulai. Korban AS tersebut dilaporkan berasal dari personel yang ditempatkan di Kuwait.
Eskalasi ini terjadi setelah Presiden Trump pada 2018 menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA) dan kemudian melancarkan kampanye tekanan maksimum terhadap Teheran. Pada Maret 2025, Trump sempat mengirim surat kepada Khamenei, memperingatkan konsekuensi militer jika Iran menolak negosiasi nuklir baru. Meskipun negosiasi nuklir tidak langsung antara AS dan Iran sempat berlangsung di Oman pada Februari 2026, pembicaraan tersebut berakhir tanpa kesepakatan pada 26 Februari 2026.