Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah melancarkan operasi militer besar-besaran bersama Israel terhadap Iran, yang dinamai “Operation Epic Fury“, pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan ini menandai titik balik kebijakan luar negeri Trump, yang dipertaruhkan untuk memperkuat agenda masa jabatan keduanya di tengah sorotan publik terhadap isu-isu domestik.
Operasi ini menargetkan kepemimpinan Iran, program nuklir, industri rudal, dan aset militer lainnya, dengan tujuan akhir menggulingkan rezim. Laporan mengejutkan menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, termasuk di antara mereka yang tewas dalam serangan gabungan AS-Israel tersebut. Trump sendiri menyerukan rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintah mereka.
Langkah militer ini diambil di tengah laporan adanya kemajuan signifikan dalam pembicaraan nuklir dengan Teheran yang dimediasi oleh negara-negara Arab, serta penolakan mayoritas warga Amerika terhadap aksi militer baru. Pembicaraan nuklir di Jenewa pada Kamis sebelumnya juga gagal mencapai terobosan, dan serangan ini tampaknya menutup pintu diplomasi untuk saat ini. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negaranya tetap terbuka untuk diplomasi jika serangan dihentikan.
Keputusan Trump untuk melancarkan serangan ini dinilai sebagai pertaruhan besar yang bertujuan menyelamatkan agenda “Make America Great Again” (MAGA) miliknya. Kebijakan luar negeri, termasuk penggunaan kekuatan militer yang diperluas, kini mendominasi agenda Trump dalam 13 bulan pertama masa jabatan keduanya, seringkali membayangi isu-isu domestik seperti biaya hidup yang menurut jajak pendapat menjadi prioritas utama bagi sebagian besar warga Amerika.
Para kritikus konservatif, termasuk beberapa suara terkemuka dalam gerakan MAGA, menyuarakan keprihatinan bahwa serangan terhadap Iran ini dapat merugikan Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu November mendatang. Mereka menyoroti bahwa tindakan ini bertentangan dengan janji kampanye Trump pada tahun 2024 untuk menghindari perang asing dan fokus pada ekonomi domestik. Salah satu komentator sayap kanan, Jack Posobiec, merujuk pada peringatan dari aktivis konservatif Charlie Kirk yang telah meninggal, yang menyatakan bahwa generasi muda Amerika lebih tertarik pada isu domestik.
Di sisi lain, beberapa pendukung MAGA, seperti Laura Loomer, mendukung kampanye pengeboman tersebut. Loomer menyatakan di X, “Iran telah menyerang AS selama lebih dari 47 tahun. Dan sekarang, Presiden ke-47 Amerika Serikat mengakhiri masa teror mereka.”
Trump sendiri menyatakan bahwa tujuan utamanya adalah “kebebasan bagi rakyat” Iran dan menyebutnya sebagai “misi mulia” untuk masa depan. Namun, para ahli kebijakan luar negeri memperingatkan bahwa konflik yang lebih luas dengan Teheran dapat melibatkan Washington selama bertahun-tahun. Ada keraguan apakah perubahan rezim dapat dicapai hanya melalui serangan udara, dan penghapusan pemimpin puncak justru dapat menimbulkan kekacauan atau memunculkan pemerintahan militer yang lebih garis keras.
Sebagai respons, Iran dengan cepat melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan beberapa pangkalan AS di wilayah tersebut. Teheran juga mengeluarkan peringatan bahwa Selat Hormuz, jalur vital minyak dunia, telah ditutup. Beberapa pihak juga menganggap serangan AS-Israel ini melanggar hukum internasional dan merupakan “perang pilihan” Amerika.
Meskipun kehadiran militer AS di Timur Tengah berada pada level tertinggi, dengan kemampuan meluncurkan ratusan rudal Tomahawk, para ahli mencatat bahwa pasukan AS tidak memiliki kekuatan darat yang cukup untuk operasi tempur besar atau perubahan rezim. Hal ini membuat upaya penangkapan pemimpin Iran ala “Maduro” tidak mungkin terjadi.