Trump: “Saya Sedang Mempertimbangkan” Serangan Militer Terbatas ke Iran

Author Image

Hodak

21 Februari 2026

donald trump, iran, amerika serikat, perundingan nuklir iran, trump

Presiden (AS) mengonfirmasi bahwa dirinya tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas terhadap . Pernyataan ini disampaikan Trump kepada awak media di Gedung Putih pada Jumat, 20 Februari 2026, di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara terkait program nuklir Teheran.

Saat ditanya mengenai kemungkinan aksi militer untuk menekan Iran agar mencapai kesepakatan nuklir, Trump menjawab, “Saya kira saya bisa mengatakan bahwa saya sedang mempertimbangkan hal itu.” Opsi ini muncul seiring dengan upaya Washington untuk meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Teheran.

Tenggat Waktu dan Pengerahan Militer

Trump telah memberikan tenggat waktu sekitar 10 hingga 15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan yang “bermakna” terkait program nuklirnya. “Kami akan membuat kesepakatan atau mendapatkan kesepakatan dengan satu cara atau cara lainnya,” tegas Trump. Ia juga memperingatkan bahwa “hal-hal buruk akan terjadi” jika Teheran gagal memenuhi tuntutan tersebut.

Sebagai bagian dari strategi tekanan ini, AS telah mengerahkan kekuatan militer signifikan ke Timur Tengah, termasuk kapal perang, jet tempur, dan peralatan militer lainnya. Laporan media AS mengindikasikan bahwa pemerintah Trump sedang menimbang skenario “serangan militer awal yang terbatas” yang akan menargetkan fasilitas militer atau pemerintahan Iran. Jika Iran tetap menolak kesepakatan, operasi militer yang lebih luas, bahkan kampanye untuk melemahkan pemerintahan di Teheran, berpotensi dilanjutkan.

Respons Iran dan Dinamika Negosiasi

Menanggapi ancaman tersebut, Iran telah mengeluarkan peringatan keras. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menyatakan bahwa pangkalan, fasilitas, dan aset AS di kawasan akan menjadi “target yang sah” jika terjadi serangan militer terhadap Teheran. Meskipun demikian, Iran juga menegaskan komitmennya terhadap solusi diplomatik dan menyatakan tetap membuka ruang negosiasi.

Perundingan nuklir tidak langsung antara AS dan Iran telah kembali bergulir di bawah mediasi Oman. Pertemuan pertama digelar di Muscat, Oman, pada 6 Februari 2026, diikuti oleh putaran kedua di Jenewa, Swiss, pada 17 Februari 2026. Wakil Presiden AS JD Vance melaporkan bahwa Iran “belum bersedia” membahas persyaratan utama yang diajukan Trump dalam pembicaraan di Jenewa. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa rancangan kesepakatan nuklir versi Teheran kemungkinan akan selesai dalam dua hingga tiga hari ke depan.

Sebelumnya, Presiden Trump pernah menyatakan bahwa perubahan rezim di Iran akan menjadi “hal terbaik yang bisa terjadi.” Ketegangan yang memanas ini juga telah berdampak pada pasar global, dengan harga minyak mentah AS melonjak 1,9 persen menjadi US$66,43 per barel dan Wall Street ditutup di zona merah akibat kekhawatiran investor.