Tottenham Hotspur akan menghadapi ujian berat di babak 16 besar Liga Champions UEFA setelah hasil undian mempertemukan mereka dengan raksasa Spanyol, Atletico Madrid. Pertandingan leg pertama dijadwalkan berlangsung di kandang Atletico, Riyadh Air Metropolitano, pada Selasa, 10 Maret 2026, diikuti leg kedua di Tottenham Hotspur Stadium pada Rabu, 18 Maret 2026.
Situasi ini datang di tengah periode sulit bagi Tottenham, yang kini ditangani oleh pelatih interim Igor Tudor. Pelatih asal Kroasia itu baru ditunjuk pada 13 Februari 2026, menggantikan Thomas Frank yang dipecat. Debut Tudor berakhir pahit dengan kekalahan telak 4-1 dari rival sekota Arsenal dalam derbi London Utara pada 22 Februari 2026. Di Liga Primer Inggris, Spurs terdampar di posisi ke-16, hanya empat poin di atas zona degradasi, dengan catatan tujuh kemenangan, delapan seri, dan 12 kekalahan. Mereka juga belum meraih kemenangan dalam sembilan pertandingan liga terakhir.
Taktik Agresif Tudor dan Tantangan Implementasi
Igor Tudor dikenal dengan filosofi sepak bola yang agresif, intensitas tinggi, dan berorientasi menyerang. Gaya bermainnya mengedepankan high pressing, penjagaan satu lawan satu (man-to-man marking), garis pertahanan yang sangat tinggi, serta transisi cepat. Ia sering menggunakan sistem tiga bek (misalnya 3-4-2-1 atau 3-4-3), di mana wing-back memiliki peran krusial dalam melebarkan permainan dan mendukung serangan.
Namun, Tudor menghadapi realitas pahit di Tottenham. Ia mengakui bahwa menerapkan taktik berintensitas tinggi secara langsung adalah hal yang sulit mengingat kondisi fisik para pemain dan banyaknya cedera yang melanda skuad. “Sulit untuk mengatakan kondisi fisik tim sangat baik. Kami telah memainkan banyak pertandingan baru-baru ini, dan banyak pemain absen karena cedera. Tingkat fisik tim telah menurun,” ujar Tudor. Ia menambahkan bahwa “untuk mengeksekusi high pressing, setiap orang harus siap. Jika satu orang saja terlambat, masalah akan muncul.” Oleh karena itu, ia terpaksa menunda penerapan “total pressing football” yang menjadi ciri khasnya.
Tudor sendiri menyebut peran di Tottenham ini sebagai tantangan terbesar dalam kariernya. Ia bertekad untuk membawa organisasi, intensitas, dan daya saing ke dalam skuad di fase krusial musim ini.
Atletico Madrid: Soliditas Bertahan dan Kerentanan Eropa
Di sisi lain, Atletico Madrid di bawah asuhan Diego Simeone telah lama dikenal dengan soliditas pertahanan dan kemampuan serangan balik mematikan, seringkali menggunakan formasi 4-4-2. Namun, musim ini, performa pertahanan Atletico di Liga Champions menunjukkan inkonsistensi. Mereka rata-rata kebobolan 1,88 gol per pertandingan, dengan 2,50 gol kebobolan saat bermain tandang, dan selalu kebobolan setidaknya satu gol di setiap pertandingan Liga Champions sejauh ini.
Simeone sendiri dikabarkan menghadapi tekanan terkait masa depannya di klub, menyusul kurangnya trofi dalam beberapa tahun terakhir dan hubungan yang tegang dengan direktur olahraga baru. Hal ini bisa menjadi faktor tambahan dalam persiapan mereka menghadapi Tottenham.
Dinamika Pemain dan Pertarungan Taktik
Pertemuan ini juga akan menjadi momen menarik bagi beberapa pemain. Gelandang Conor Gallagher, yang baru saja pindah dari Atletico Madrid ke Tottenham pada bursa transfer musim dingin, akan kembali ke Madrid. Selain itu, kapten Tottenham, Cristian Romero, adalah pemain yang secara terbuka diminati oleh pelatih Diego Simeone.
Dengan kondisi Tottenham yang sedang berjuang di liga domestik dan tantangan adaptasi taktik Tudor, pertandingan Liga Champions melawan Atletico Madrid akan menjadi ujian sesungguhnya. Pertarungan taktik antara gaya agresif Tudor yang tertahan dan soliditas Simeone yang sedikit goyah akan menjadi sorotan utama dalam upaya kedua tim melaju ke babak selanjutnya. Sementara itu, spekulasi mengenai potensi kepergian Antoine Griezmann ke MLS juga masih menjadi topik hangat di kubu Atletico.