Sosok di balik setiap adegan berbahaya yang memukau di layar lebar seringkali luput dari perhatian. Namun, di Indonesia, ada seorang profesional yang telah mendedikasikan hidupnya untuk seni berbahaya ini: Udeh Nans. Dengan pengalaman puluhan tahun, ia dikenal sebagai stunt coordinator andal yang merancang dan mengoordinasikan segala jenis aksi laga, mulai dari kejar-kejaran mobil yang menegangkan, tabrakan spektakuler, koreografi bela diri yang memukau, hingga adegan ekstrem seperti tubuh terbakar.
Perjalanan Panjang dari Pemalang ke Panggung Dunia
Nama asli Udeh Nans adalah Saifuddin Mubdy, seorang pria kelahiran Pemalang. Kecintaannya pada film, terutama The Terminator (1984), menumbuhkan cita-cita menjadi bagian dari dunia laga. Pada awal tahun 2000-an, ia nekat merantau ke Jakarta, meninggalkan pekerjaan tetapnya sebagai hotelier demi mengejar mimpi menjadi stuntman.
Karier awalnya diisi dengan membintangi berbagai sinetron laga Indonesia seperti Cinta Terlarang (2006) dan Jangan Salahkan Aku (2005). Di sana, ia kerap berperan sebagai petarung yang harus menghadapi berbagai bahaya fisik. Jam terbangnya yang tinggi sebagai stuntman tak lepas dari cedera serius, termasuk leher nyaris patah, dislokasi bahu, serta cedera lutut dan tulang rusuk. Meski begitu, ia menjalani semua itu dengan senang hati, meski dengan upah yang minim.
“Ya itu tahun 2005. Kondisi saya juga numpang di kantor PH (Production House, red)-nya. Tidur hanya beralaskan koran, bantalnya itu ya pakai tas saya itu. Saya bujangan, tidak punya tanggungan, ya kan?” ujar Udeh saat berbincang di program Sosok detikcom.
Transisi Menjadi Stunt Coordinator dan Perjuangan untuk Kru
Seiring bertambahnya usia dan kesadaran akan stagnasi karier, Udeh bertekad untuk naik jenjang menjadi stunt coordinator. Ia tekun mengasah kemampuan sembari terus aktif sebagai stuntman profesional. Dana yang terkumpul memungkinkannya mengikuti kelas Stunt Academy di Australia pada tahun 2016. Sepulangnya dari sana, ia mantap memulai karier barunya.
Berkaca dari pengalamannya yang penuh perjuangan, Udeh berupaya menciptakan ekosistem yang lebih sehat dan aman bagi para pelaku stunt. Ia mendirikan PT Pejuang Laga Indonesia, yang dikenal sebagai Pejuang Stunt. Organisasi ini bertujuan menaungi para stuntman secara lebih terorganisir, mencakup sistem pembayaran yang adil, penyaluran kru yang profesional, peningkatan keamanan kerja, hingga pengembangan kapasitas dan solidaritas antar sesama stunt.
Udeh sangat memegang prinsip keselamatan kerja. “Saya mengutip dari pernyataannya Bruce Law, salah satu stunt coordinator mobil. Jadi jika ada stunt yang cedera, berarti saya orang jahat. Saya bikin orang terluka dalam pekerjaan yang saya naungi. Jadi saya sangat memegang itu, jangan sampai ada stunt ataupun pemain cedera pada saat saya bertugas atau di project-project yang saya naungi,” jelasnya.
Rekam Jejak Gemilang di Industri Film
Sepanjang kariernya, Udeh Nans telah berkontribusi dalam berbagai produksi film ternama, baik di dalam maupun luar negeri. Beberapa di antaranya adalah:
- Duologi The Raid (2011 & 2014)
- Grisse (2018)
- Duologi Agak Laen (2024 & 2025)
- Monkey Man (2024)
- Tinggal Meninggal (2025)
- Sore: Istri dari Masa Depan (2025)
- Abadi Nan Jaya (2025)
Dedikasi dan keahlian Udeh Nans telah membuktikan bahwa di balik setiap adegan ekstrem yang memukau, ada kerja keras, keberanian, dan profesionalisme yang luar biasa.






