Uni Emirat Arab (UEA) mengambil langkah diplomatik drastis dengan menarik duta besarnya dari Teheran dan menutup kedutaan besarnya di Iran pada Senin, 2 Maret 2026, menyusul gelombang serangan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) yang menargetkan wilayahnya sejak akhir Februari 2026. Serangan ini memicu respons keras dari Abu Dhabi, yang menegaskan haknya untuk membalas.
Kementerian Pertahanan UEA melaporkan bahwa sistem pertahanan udara canggih mereka, termasuk Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dan MIM-104 Patriot, telah bekerja ekstra keras untuk menangkis ancaman tersebut. Secara keseluruhan, UEA berhasil mendeteksi setidaknya 165 rudal balistik, dengan 152 di antaranya berhasil dihancurkan sebelum mencapai target. Selain itu, dua rudal jelajah juga berhasil dicegat, serta 506 dari 541 drone Iran yang terdeteksi berhasil dilumpuhkan.
Dampak Serangan dan Korban Jiwa
Meskipun sebagian besar serangan berhasil ditangkis, hantaman rudal dan puing-puing yang lolos tetap membawa dampak fatal. Sedikitnya tiga orang tewas dan 58 lainnya mengalami luka-luka di UEA. Korban jiwa diidentifikasi sebagai pekerja asing dari Pakistan, Nepal, dan Bangladesh. Jatuhnya puing-puing rudal di kawasan pemukiman di Abu Dhabi juga dilaporkan menyebabkan kerusakan material yang signifikan, dan satu warga negara asing asal Asia tewas akibat hantaman serpihan proyektil di area padat penduduk.
Serangan Iran menyasar sejumlah titik strategis dan fasilitas sipil di UEA. Puing-puing dari drone yang berhasil dicegat bahkan sempat menyebabkan kebakaran kecil di fasad luar salah satu hotel mewah di Dubai, Burj Al Arab. Selain itu, Bandara Internasional Zayed Abu Dhabi dan Bandara Internasional Dubai juga dilaporkan terkena rudal Iran, menyebabkan kerusakan dan korban luka. Pangkalan Angkatan Laut Al Salam di Abu Dhabi juga menjadi sasaran drone, memicu kebakaran tanpa korban jiwa.
Kecaman dan Langkah Diplomatik UEA
Pemerintah UEA mengutuk keras serangan ini, menyebutnya sebagai ancaman serius bagi keamanan maritim dan stabilitas regional. Melalui pernyataan resmi, Kementerian Pertahanan UEA mengecam tindakan tersebut dengan nada paling keras. “Kementerian mengecam serangan ini dengan nada yang paling keras, menekankan penolakan mutlak negara terhadap penargetan objek sipil, fasilitas, dan institusi nasional, serta menekankan bahwa tindakan semacam itu merupakan eskalasi berbahaya dan tindakan pengecut yang mengancam keamanan dan keselamatan warga sipil serta merusak stabilitas,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Pertahanan UEA.
Kementerian Luar Negeri UEA juga menegaskan bahwa serangan-serangan tersebut merupakan pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan nasional, hukum internasional, dan Piagam PBB. “Kementerian menekankan bahwa penargetan ini adalah pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan nasional dan hukum internasional, dan bahwa negara memiliki hak penuh untuk menanggapi eskalasi ini dan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi wilayahnya. Kami sepenuhnya siap dan siaga untuk menangani segala bentuk ancaman,” tambah pernyataan tersebut. Selain penarikan diplomat, UEA juga menutup sementara wilayah udaranya sebagai langkah pencegahan.
Sistem Pertahanan Canggih THAAD dan Patriot
Sistem pertahanan udara UEA mengandalkan kombinasi THAAD dan MIM-104 Patriot yang dipasok oleh Amerika Serikat. THAAD, yang dikembangkan oleh Lockheed Martin, dirancang untuk mencegat rudal balistik pada ketinggian tinggi, sekitar 40 hingga 150 kilometer. Sementara itu, sistem Patriot, yang diproduksi oleh Raytheon, beroperasi pada ketinggian yang lebih rendah, efektif dalam memintas rudal balistik taktis, rudal jelajah, dan pesawat canggih dalam jarak hingga 150 kilometer. Kedua sistem ini bekerja secara sinergis untuk membentuk arsitektur pertahanan berlapis.
Pengerahan sistem pertahanan rudal ini menjadi bagian dari strategi Washington untuk memperkuat tekanan militer terhadap Iran di Timur Tengah. Amerika Serikat sendiri telah mengerahkan tambahan sistem THAAD dan Patriot ke pangkalan-pangkalan AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, dan Qatar pada awal Februari 2026, sebagai persiapan menghadapi potensi pembalasan Iran.
Eskalasi Konflik Regional
Serangan Iran ini merupakan respons langsung terhadap operasi militer gabungan AS-Israel yang sebelumnya menghantam fasilitas vital di Iran, yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Eskalasi ini tidak hanya berdampak pada UEA, tetapi juga meluas ke negara-negara Teluk lainnya seperti Kuwait, Yordania, dan Qatar, yang juga melaporkan keterlibatan mereka dalam menghalau serangan Iran.