Ukraina Dorong Kesepakatan Drone US$50 Miliar dengan AS, di Tengah Penolakan Trump

volodymyr zelenskiy, amerika serikat, drone ukraina, donald trump, shahed drone

Ukraina kembali mendesak untuk menyepakati kerja sama produksi drone berskala besar, sebuah proposal yang diperkirakan bernilai antara US$35 miliar hingga US$50 miliar. Dorongan ini datang di tengah kebutuhan mendesak AS akan teknologi anti-drone yang telah teruji di medan perang, meskipun mantan Presiden secara terbuka menolak tawaran tersebut.

Delegasi negosiator Ukraina dijadwalkan bertolak ke AS pada 20 Maret 2026 untuk mempresentasikan kembali inisiatif ini kepada pemerintahan Trump. Presiden menyatakan bahwa proposal tersebut mencakup pembagian teknologi drone yang telah teruji dalam pertempuran, khususnya sistem yang dirancang untuk melawan drone serang Shahed buatan Iran. Ini juga termasuk paket pertukaran pengetahuan penting, pelatihan, dan pengembangan drone pencegat, drone maritim, serta drone jarak jauh.

Zelenskiy menegaskan bahwa Ukraina memiliki kapasitas industri untuk mendukung program semacam itu dan berambisi untuk membangun pabrik drone terbesar di dunia melalui kerja sama ini. Proposal ini, yang pertama kali diajukan sekitar setahun yang lalu, bertujuan untuk menggabungkan kapasitas industri AS dengan pengalaman tempur Ukraina yang tak tertandingi dalam perang drone modern.

Ukraina Unggul dalam Teknologi Anti-Drone Murah

Sejak invasi Rusia pada tahun 2022, Ukraina telah menjadi pelopor dalam pengembangan “pembunuh drone” berbiaya rendah, dengan beberapa sistem hanya menghabiskan beberapa ribu dolar untuk menjatuhkan drone Shahed. Ini sangat kontras dengan taktik AS dan sekutunya yang sering mengandalkan rudal jutaan dolar untuk tugas yang sama. Travis Metz, kepala program “Drone Dominance” Departemen Pertahanan AS, bahkan mengakui bahwa “drone terbaik di dunia dalam hal kemampuan tempur dan skalabilitas produksi ada di Ukraina.”

Pengakuan ini muncul saat AS menghadapi ancaman drone Iran yang serupa di Timur Tengah, sebuah situasi yang semakin intensif. Para pejabat AS kini melihat keputusan tahun lalu untuk menolak teknologi anti- tertentu sebagai “peluang besar yang terlewatkan.” Departemen Pertahanan AS sendiri berencana mengalokasikan lebih dari US$1 miliar selama 18 bulan ke depan untuk program “Drone Dominance” guna pengadaan lebih dari 200.000 drone dan mengurangi biaya unit.

Penolakan Trump dan Respons Zelenskiy

Meskipun ada kebutuhan yang diakui oleh beberapa pejabat militer AS, mantan Presiden Donald Trump secara publik meremehkan tawaran bantuan Ukraina. Pada 13 Maret 2026, Trump menyatakan, “Orang terakhir yang kami butuhkan bantuannya adalah Zelenskiy,” dan menambahkan, “Kami tidak membutuhkan bantuan (Ukraina). Kami tahu lebih banyak tentang drone daripada siapa pun.”

Namun, Zelenskiy tetap menunjukkan kesiapan untuk melanjutkan. “Saya sangat tertarik untuk menandatangani perjanjian ini dengan mitra dekat kami, AS. Jadi, ketika Presiden Trump siap, saya pasti akan siap,” ujarnya. Ia juga mencatat bahwa tim negosiasi Ukraina akan membahas masalah ini dalam pertemuan mendatang di AS.

Kerja Sama Internasional dan Situasi di Timur Tengah

Ukraina telah memperluas kerja sama drone dengan negara-negara lain, termasuk produksi bersama dengan Jerman, Inggris, Denmark, dan Belanda, serta memulai dengan Norwegia. Selain itu, Ukraina telah mengerahkan sekitar 200 spesialis dan ahli drone ke lima negara Timur Tengah—Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Yordania—untuk membantu mencegat drone dan memberikan saran tentang langkah-langkah pertahanan udara. Langkah ini menunjukkan peran penting Ukraina dalam menghadapi ancaman drone global.

Di sisi lain, Rusia telah menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam pembicaraan trilateral yang melibatkan Ukraina dan AS yang dijadwalkan pada Sabtu, 21 Maret 2026. Saat ini, Ukraina masih menantikan persetujuan Gedung Putih untuk kesepakatan produksi drone yang diyakini dapat menjadi kemitraan teknologi militer jangka panjang.