Umat Muslim Indonesia Jalani Puasa Hari Kesembilan Ramadan 1447 H, Kemenag Tetapkan Awalnya 19 Februari

Author Image

Hodak

27 Februari 2026

Jumat, 27 Februari 2026, umat Islam di Indonesia mayoritas tengah menjalani ibadah hari kesembilan Ramadan 1447 Hijriah. Penetapan awal bulan suci ini dilakukan oleh pemerintah melalui (Kemenag) yang memutuskan 1 Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Keputusan tersebut merupakan hasil dari penetapan awal yang diselenggarakan pada Selasa, 17 Februari 2026, di Hotel Borobudur, Jakarta. Menteri Agama Nasaruddin Umar memimpin langsung sidang penting ini, yang melibatkan berbagai unsur seperti perwakilan organisasi keagamaan, ahli astronomi, Komisi VIII DPR RI, hingga perwakilan negara sahabat.

Dalam proses penetapan, pemerintah mengombinasikan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyatul hilal (pemantauan langsung hilal atau bulan sabit baru). Anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag, Cecep Nurwendaya, menjelaskan bahwa posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia saat itu berada pada kisaran minus 2 derajat 24 menit 43 detik hingga minus 0 derajat 55 menit 41 detik, dengan elongasi antara 0 derajat 56 menit 23 detik hingga 1 derajat 53 menit 36 detik. Data ini belum memenuhi kriteria visibilitas hilal atau imkanur rukyat yang disepakati oleh Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yakni tinggi hilal minimum 3 derajat dan elongasi minimum 6,4 derajat. Oleh karena itu, hilal tidak terlihat dan 1 Ramadan ditetapkan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Sementara itu, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal, yang diumumkan melalui Maklumat Nomor 2/MLM/1.0/E/2025. Perbedaan metode penentuan ini menyebabkan adanya selisih satu hari dalam memulai ibadah puasa di kalangan umat Islam Indonesia.

Dengan demikian, bagi warga Muhammadiyah yang memulai puasa pada 18 Februari, hari ini, 27 Februari 2026, merupakan hari kesepuluh ibadah puasa mereka. Perbedaan ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, menjadi dinamika dalam penentuan kalender Hijriah di Indonesia.

Menyikapi perbedaan ini, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengimbau agar umat Islam tetap menjaga persatuan dan saling menghormati. “Apabila terdapat sebagian umat Islam yang memiliki keyakinan berbeda dalam penetapan awal Ramadan, kami mengimbau agar perbedaan tersebut tidak menimbulkan perpecahan. Jadikan perbedaan sebagai kekayaan dan mozaik indah bangsa Indonesia,” ujarnya.

Terkait Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H, Muhammadiyah telah menetapkannya pada Jumat, 20 Maret 2026. Adapun pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) diperkirakan akan merayakan Idul Fitri pada Sabtu, 21 Maret 2026, setelah kembali menggelar sidang isbat di akhir Ramadan.