UNESCO Peringatkan Kreator Global Terancam Rugi Hingga 24% Akibat AI Generatif pada 2028

Author Image

Hodak

27 Februari 2026

unesco, ai generatif, industri kreatif, pendapatan kreator, ekonomi digital

Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa () baru-baru ini merilis laporan global yang mengkhawatirkan mengenai dampak kecerdasan buatan (AI) generatif terhadap . Laporan berjudul “Re|Shaping Policies for Creativity” yang diterbitkan pada 18 Februari 2026 ini memproyeksikan kerugian pendapatan yang substansial bagi para kreator di seluruh dunia pada tahun 2028.

Secara spesifik, UNESCO memperkirakan bahwa kreator musik dapat menghadapi penurunan pendapatan hingga 24%, sementara mereka yang berkarya di sektor audiovisual berisiko kehilangan 21% dari penghasilan mereka. Penurunan ini diakibatkan oleh semakin meluasnya konten yang dihasilkan oleh AI di pasar global.

Disrupsi Cepat, Kebijakan Tertinggal

Laporan tersebut menyoroti bahwa laju disrupsi yang dibawa oleh jauh melampaui respons kebijakan yang ada saat ini. Kondisi ini memperparah ketidaksetaraan dan mengancam mata pencarian jutaan pekerja budaya di seluruh dunia. Pergeseran menuju produksi dan konsumsi digital, meskipun membuka peluang baru, juga menciptakan ketidakpastian ekonomi yang lebih besar.

Para kreator kini semakin rentan terhadap pelanggaran hak kekayaan intelektual (HKI) dan menghadapi penurunan imbal hasil atas karya mereka seiring masuknya hasil karya AI ke pasar. Kesenjangan digital juga menjadi faktor penting; 67% penduduk di negara maju memiliki keterampilan digital esensial, namun angka ini anjlok menjadi hanya 28% di negara berkembang, memperlebar disparitas, terutama bagi kreator di negara-negara Global Selatan.

AI: Pedang Bermata Dua bagi Kreativitas

Di satu sisi, AI generatif menawarkan potensi besar untuk mempercepat produksi konten, meningkatkan kreativitas, dan mempersonalisasi pengalaman audiens. Teknologi ini dapat membantu kreator menghasilkan draf awal, bereksperimen dengan ide baru, dan mengoptimalkan proses produksi. Bahkan, di Indonesia, AI generatif dipandang memiliki peluang untuk meningkatkan kapasitas produksi hingga USD 243,5 miliar, setara dengan seperlima PDB tahun 2022.

Namun, di sisi lain, AI generatif juga membawa tantangan serius. Kekhawatiran muncul terkait penyebaran informasi palsu, masalah privasi data, dan ambiguitas hak cipta atas karya yang dihasilkan AI. Profesi seperti ilustrator, desainer grafis pemula, penulis konten, hingga pengisi suara mulai merasakan persaingan ketat dari sistem AI yang mampu menghasilkan luaran serupa dengan biaya lebih rendah dan waktu lebih singkat.

Beberapa skenario bahkan memprediksi krisis ekonomi global pada tahun 2028, di mana tingkat pengangguran bisa melonjak hingga 10,2% akibat AI yang menggantikan banyak pekerjaan sebelum sistem ekonomi sempat beradaptasi. Istilah “human obsolescence” atau manusia usang mulai muncul, menggambarkan situasi di mana manusia dianggap tidak relevan di banyak bidang kerja.

Menjaga Esensi Kemanusiaan dalam Karya

Para ahli menekankan pentingnya penggunaan AI secara etis, verifikasi fakta, dan menjaga kualitas konten. Transparansi mengenai penggunaan AI dalam sebuah karya juga menjadi krusial. Meskipun AI mampu menciptakan karya, nilai sejati seorang seniman tetap terletak pada visi, emosi, narasi, dan “suara” unik yang tidak dapat direplikasi sepenuhnya oleh mesin.

Sam Altman, CEO OpenAI, bahkan menyatakan bahwa Artificial General Intelligence (AGI), tingkat AI dengan kecerdasan kognitif setara manusia, terasa “cukup dekat” untuk diwujudkan. Hal ini semakin menegaskan urgensi bagi para pembuat kebijakan untuk memastikan adanya visi nasional yang jelas terkait AI, serta fokus pada penyiapan tenaga kerja dan pembentukan lingkungan kebijakan yang kondusif untuk pemanfaatan AI yang bertanggung jawab.