Suasana di Stade Rennais tengah bergejolak menyusul kepergian pelatih Habib Beye yang kini telah resmi menukangi Olympique Marseille. Di tengah dinamika tersebut, gelandang sekaligus mantan kapten Marseille, Valentin Rongier, angkat bicara mengenai situasi yang terjadi, menekankan pentingnya tanggung jawab kolektif tim.
Habib Beye, yang ditunjuk sebagai pelatih kepala Stade Rennais pada 30 Januari 2025, harus mengakhiri masa jabatannya pada 9 Februari 2026. Pemecatan ini terjadi setelah serangkaian hasil buruk, termasuk empat kekalahan beruntun yang dialami Rennes. Salah satu kekalahan telak adalah saat disingkirkan Olympique Marseille dengan skor 3-0 di ajang Coupe de France.
Presiden Rennes, Arnaud Pouille, sempat menyatakan keheranannya atas keinginan Beye untuk hengkang, yang muncul sehari setelah kekalahan memalukan di Coupe de France tersebut. Selain performa tim yang menurun, keputusan Beye untuk mencoret kiper Brice Samba juga disebut-sebut menjadi salah satu pemicu ketegangan internal di ruang ganti.
Tak lama setelah dipecat dari Rennes, Habib Beye langsung menemukan pelabuhan baru. Pada 19 Februari 2026, ia resmi ditunjuk sebagai manajer Olympique Marseille, menggantikan Roberto De Zerbi.
Valentin Rongier sendiri bergabung dengan Stade Rennais pada 21 Juli 2025, setelah enam musim membela Olympique Marseille dan sempat menjabat sebagai kapten tim. Kehadirannya di Rennes diharapkan membawa pengalaman dan kepemimpinan.
Sebelum kepergian Beye, hubungan antara pelatih dan beberapa pemain kunci, termasuk Rongier, sempat menjadi sorotan. Pada Oktober 2025, muncul laporan yang menyebutkan bahwa Rongier dan sejumlah pemain senior lainnya mulai mempertanyakan pendekatan taktis dan manajemen Beye yang dianggap kurang jelas.
Namun, Rongier juga pernah menunjukkan dukungan publik untuk Beye. Setelah kekalahan 1-2 dari Nice pada Oktober 2025, ia sempat membela sang pelatih dan menyerukan persatuan. “Tidak ada penipu di dalam grup,” ujar Rongier kala itu, “Entah itu dia atau kami, kami bermain untuk lambang, untuk tim, dan untuk klub. Kami tidak akan pernah menyerah.”
Menyusul kekalahan dari Lens pada 7 Februari 2026 dan keputusan Beye untuk menepikan Brice Samba, Rongier kembali memberikan komentar. Ia dengan tegas menyatakan, “Itu bukan urusan kami. Pelatih membuat keputusan ini, dia adalah bos kami.” Ia juga menegaskan soliditas tim, “Tidak ada yang terpecah, kami bersama dan kami akan menunjukkannya hingga akhir musim.”
Terbaru, pada 20 Februari 2026, Rongier kembali buka suara setelah Beye resmi pindah ke Marseille. Ia mengakui bahwa pergerakan pemain dan pelatih adalah hal yang lumrah dalam sepak bola modern. “Kami tentu telah mencapai akhir dari sesuatu, manajemen membuat keputusan ini,” kata Rongier. Ia menambahkan, “Kami para pemain tidak punya hak untuk berkomentar, hanya untuk bekerja dan mengambil tanggung jawab kami, karena jika itu tidak berhasil, itu bukan hanya salah pelatih, tetapi semua orang. Ada refleksi diri yang besar di dalam grup.”
Rongier juga menampik anggapan bahwa tim telah meninggalkan Beye. “Saya hanya akan berbicara untuk diri saya sendiri. Saya terus berkomunikasi dengannya, saya tidak merasa bahwa grup meninggalkannya,” ungkap Rongier, seraya menyebut bahwa hasil pertandingan memang memengaruhi moral tim.