VKTR Grup Bakrie Berbalik Rugi Rp11,36 Miliar pada 2025 Meski Pendapatan Tumbuh

pt vktr teknologi mobilitas tbk, grup bakrie, kinerja keuangan, kendaraan listrik, transjakarta

(VKTR), emiten di bawah naungan , melaporkan kerugian bersih sebesar Rp11,36 miliar sepanjang tahun buku 2025. Angka ini berbanding terbalik dengan capaian laba bersih Rp7,56 miliar yang dibukukan perseroan pada tahun 2024.

Kerugian ini terjadi di tengah pertumbuhan pendapatan yang cukup solid. VKTR berhasil membukukan penjualan bersih sebesar Rp1,08 triliun pada 2025, meningkat 8,52% secara tahunan (YoY) dibandingkan Rp1 triliun pada 2024. Kenaikan pendapatan ini didorong oleh akselerasi pengiriman kendaraan listrik serta kontribusi stabil dari segmen manufaktur suku cadang.

Beban Operasional yang Membengkak Jadi Pemicu Utama

Meskipun laba kotor perseroan menunjukkan pertumbuhan 10,36% YoY menjadi Rp196,61 miliar pada 2025 dari Rp178,14 miliar pada 2024, tekanan signifikan datang dari peningkatan berbagai pos beban. Beban pokok penjualan naik 8,12% menjadi Rp892,62 miliar. Lebih lanjut, total beban usaha melonjak 11,36% menjadi Rp187,91 miliar, dengan beban umum dan administrasi menjadi penyumbang terbesar.

Akibatnya, laba usaha VKTR menyusut 7,59% menjadi Rp8,68 miliar pada 2025, dibandingkan Rp9,40 miliar pada tahun sebelumnya. Kondisi ini diperparah dengan kenaikan beban keuangan yang signifikan, dari Rp10,63 miliar menjadi Rp17,08 miliar pada akhir 2025, yang turut menggerus profitabilitas perusahaan.

Chief Executive Officer VKTR, A. Ardiansyah Bakrie, menjelaskan bahwa pertumbuhan pendapatan mencerminkan akselerasi pengiriman kendaraan listrik yang semakin masif. Ia juga menekankan adanya perbaikan strategi harga pada segmen kendaraan listrik yang membantu memperkuat margin laba kotor perusahaan.

Posisi Keuangan dan Prospek Bisnis ke Depan

Dari sisi posisi keuangan, total aset VKTR tumbuh 11,8% YoY menjadi Rp1,79 triliun pada 2025, dari Rp1,60 triliun pada 2024. Peningkatan aset ini didorong oleh kenaikan uang muka terkait proyek penjualan kendaraan listrik yang belum diakui sebagai pendapatan, serta penambahan aset tetap. Sementara itu, liabilitas perseroan juga meningkat 22,2% YoY menjadi Rp553 miliar pada 2025, sejalan dengan penambahan pinjaman untuk modal kerja guna mendukung pertumbuhan bisnis.

Untuk mengatasi tantangan profitabilitas, VKTR berkomitmen untuk mengakselerasi transisi segmen kendaraan listrik dari fase investasi menuju profitabilitas berkelanjutan. Strategi yang ditempuh meliputi disiplin operasional, pengoptimalan utilisasi kapasitas produksi, dan efisiensi biaya.

Perseroan juga berencana mengokohkan posisinya sebagai pionir kendaraan listrik komersial dengan menyeimbangkan kembali portofolio produk dari bus ke truk, guna mengakselerasi diversifikasi pendapatan dan menjangkau pasar kendaraan komersial yang lebih luas. Selain itu, VKTR memperluas pengembangan produknya ke segmen Waste-to-Energy (WTE) sebagai bagian dari komitmen menghadirkan solusi mobilitas dan teknologi berkelanjutan.

VKTR memproyeksikan pendapatan segmen kendaraan listrik akan meningkat signifikan pada 2026, didukung oleh penyelesaian proyek yang tersisa 30 unit di awal tahun. Hingga akhir 2025, VKTR telah menyelesaikan pengiriman 50 unit bus listrik untuk Transjakarta dari total pesanan 80 unit, dengan 30 unit sisanya dalam tahap penyelesaian karoseri. Secara kumulatif, hingga akhir 2025, VKTR telah merampungkan penjualan 135 unit bus listrik, 24 unit truk listrik, dan 13 unit forklift.