Wabah Campak di Australia Terkait Pelaku Perjalanan dari Indonesia, Kemenkes Perketat Pengawasan

Author Image

Hodak

26 Februari 2026

campak, kementerian kesehatan, australia, wabah penyakit, imunisasi

(Kemenkes) Republik Indonesia menanggapi serius laporan otoritas kesehatan mengenai temuan dua kasus pada warga negara asing (WNA) yang memiliki riwayat perjalanan dari Indonesia pada Februari 2026. Peningkatan kasus ini turut menjadi perhatian Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, yang menilai fenomena campak terjadi di seluruh dunia.

Kasus pertama melibatkan seorang perempuan berusia 18 tahun dengan riwayat vaksinasi MMR lengkap, yang melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Perth pada awal Februari 2026. Gejala ruam muncul setibanya di Perth pada 8 Februari, dan hasil pemeriksaan PCR kemudian mengonfirmasi positif campak. Sementara itu, kasus kedua menimpa seorang anak perempuan berusia 6 tahun tanpa riwayat yang menempuh rute Jakarta-Sydney pada pertengahan Februari. Otoritas Australia kini tengah melakukan penelusuran lebih lanjut untuk memetakan potensi penularan di sana.

Menanggapi notifikasi resmi melalui mekanisme International Health Regulations (IHR) ini, Kemenkes RI memastikan langkah penguatan surveilans atau deteksi dini serta imunisasi tambahan terus diintensifkan. Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2) Kemenkes, dr. Andi Saguni, menjelaskan, “Kementerian Kesehatan telah menerima notifikasi resmi melalui mekanisme IHR terkait dua kasus campak yang memiliki riwayat perjalanan dari Indonesia. Sebagai langkah cepat, kami melakukan penguatan surveilans penyakit campak serta mengintensifkan imunisasi campak tambahan bagi anak usia sekolah, terutama di daerah dengan beban kasus tertinggi sepanjang 2025–2026.”

Koordinasi intensif lintas negara dengan Australia dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Indonesia juga tengah dilakukan. Di tingkat domestik, penyelidikan epidemiologi telah dimulai, dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dikerahkan untuk melakukan pelacakan. Kemenkes juga menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk rumah sakit, untuk mengantisipasi dan menangani potensi kasus dengan komplikasi.

Situasi campak di Indonesia sendiri memerlukan perhatian serius. Berdasarkan data Global Measles Outbreaks dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat yang mengutip data WHO per Januari 2026, Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia dengan kasus wabah campak terbanyak, dengan 10.744 kasus dalam periode Juli-Desember 2025. Angka ini hanya kalah dari Yaman yang mencatat 11.288 kasus.

Sepanjang tahun 2025, tercatat 11.094 kasus campak terkonfirmasi secara nasional, dan hingga Februari 2026, sudah dilaporkan sebanyak 550 kasus. Meskipun demikian, Kemenkes menegaskan bahwa Indonesia belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak secara nasional tahun ini. Namun, pada tahun 2025, 46 wilayah di 42 kabupaten/kota pada 14 provinsi telah menetapkan status KLB campak, dengan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menjadi salah satu titik terparah yang mencatat lebih dari 2.000 kasus suspek dan 17 kematian, mayoritas pada anak yang tidak diimunisasi lengkap.

Meningkatnya kasus campak di Indonesia ini berkaitan langsung dengan menurunnya cakupan imunisasi rutin lengkap dalam beberapa tahun terakhir. Cakupan imunisasi rutin lengkap di Indonesia pernah mencapai 92 persen pada 2018, namun turun menjadi 87,8 persen pada 2023. Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menekankan, “Data-data ini kembali menunjukkan bahwa kita perlu memberi perhatian penuh pada pengendalian penyakit campak dan juga penyakit menular pada umumnya, termasuk meningkatkan cakupan imunisasi kita.”

Kemenkes mengimbau masyarakat, khususnya pelaku perjalanan internasional, untuk memastikan status imunisasi campak mereka sudah lengkap. Selain itu, masyarakat yang mengalami gejala demam dan ruam disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan dan membatasi kontak dengan orang lain untuk mencegah penyebaran lebih luas.