Wabah Meningitis Invasi di Kent Capai 20 Kasus, Dua Meninggal Dunia

Otoritas kesehatan Inggris tengah berjuang mengatasi wabah (IMD) di wilayah , Inggris Tenggara, yang telah menyebabkan 20 kasus terkonfirmasi dan dua kematian. Sebagian besar kasus menimpa kaum muda, khususnya mahasiswa dan siswa sekolah menengah atas di area Canterbury, memicu respons cepat dari Badan Keamanan Kesehatan Inggris () dan Layanan Kesehatan Nasional (NHS).

Hingga 18 Maret 2026, UKHSA melaporkan total 20 kasus IMD di Kent. Dari jumlah tersebut, sembilan kasus telah dikonfirmasi melalui uji laboratorium, sementara 11 lainnya masih dalam tahap investigasi. Enam dari kasus yang terkonfirmasi diidentifikasi sebagai penyakit meningokokus kelompok B (MenB), jenis bakteri yang dikenal dapat menyebabkan kondisi serius. Dua korban meninggal dunia diidentifikasi sebagai seorang mahasiswa Universitas Kent dan seorang siswa sekolah menengah atas dari Faversham.

Penyelidikan epidemiologi menunjukkan bahwa beberapa kasus memiliki riwayat kunjungan ke Club Chemistry, sebuah kelab malam di Canterbury, antara tanggal 5 hingga 7 Maret 2026. Kelab malam tersebut kini telah ditutup. Penyakit meningokokus invasif menyebar melalui kontak dekat dan berkepanjangan, seperti tinggal serumah, kontak intim, atau berbagi minuman dan vape. UKHSA menegaskan bahwa bakteri ini tidak menular secepat infeksi pernapasan seperti campak atau COVID-19.

Menanggapi situasi ini, UKHSA dan NHS telah meluncurkan program pemberian antibiotik profilaksis secara massal. Lebih dari 2.500 dosis antibiotik telah diberikan kepada mahasiswa, kontak dekat, dan siapa pun yang mengunjungi Club Chemistry pada tanggal-tanggal yang disebutkan. Dokter umum di seluruh negeri juga diinstruksikan untuk meresepkan antibiotik bagi individu yang memenuhi kriteria dan telah kembali ke rumah dari Kent.

Selain itu, program vaksinasi MenB yang ditargetkan juga sedang digulirkan. Prioritas awal diberikan kepada sekitar 5.000 mahasiswa yang tinggal di asrama Kampus Canterbury Universitas Kent. Program ini dapat diperluas seiring dengan penilaian risiko yang terus dilakukan oleh UKHSA. Penting untuk dicatat bahwa vaksin MenB baru menjadi bagian dari program imunisasi anak di Inggris sejak tahun 2015, sehingga banyak mahasiswa saat ini kemungkinan belum divaksinasi.

Gejala penyakit meningokokus dapat berkembang dengan cepat dan meliputi demam, sakit kepala, napas cepat, kantuk, menggigil, muntah, tangan dan kaki dingin, serta ruam khas yang tidak memudar saat ditekan. UKHSA mendesak masyarakat, terutama mahasiswa dan staf, untuk tetap waspada terhadap gejala-gejala ini dan segera mencari pertolongan medis jika timbul kekhawatiran. Trish Mannes, Wakil Direktur Regional UKHSA untuk wilayah Tenggara, menekankan, “Penyakit meningokokus dapat berkembang pesat, jadi sangat penting bagi mahasiswa dan staf untuk waspada terhadap tanda dan gejala meningitis dan septikemia.”

Meskipun sebagian besar kasus terpusat di Kent, satu kasus dilaporkan di London dan dua kasus di Prancis juga memiliki keterkaitan epidemiologis dengan wabah ini, karena individu-individu tersebut sebelumnya mengunjungi Canterbury. Namun, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) menilai risiko terhadap populasi umum di Uni Eropa dan Wilayah Ekonomi Eropa (EU/EEA) sangat rendah. Otoritas kesehatan Inggris semakin yakin bahwa wabah ini telah berhasil dikendalikan, dengan tidak adanya kasus baru yang tidak terkait dengan klaster awal.