Wagub Sumbar Peringatkan Warga: Air Sinkhole Limapuluh Kota Mengandung Bakteri E-coli, Jangan Diminum!

Author Image

Irfan

12 Januari 2026

Sinkhole Di Tengah Sawah, Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Ramai Didatangi Warga. (jeka Kampai/detikcom)
Sinkhole di tengah sawah, Limapuluh Kota, Sumatera Barat, ramai didatangi warga. (Jeka Kampai/detikcom)

PADANG – Wakil Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Vasko Ruseimy, mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi air dari fenomena sinkhole (lubang runtuhan) yang terjadi di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota. Imbauan ini dikeluarkan menyusul ramainya warga yang mengambil air tersebut untuk dijadikan obat, padahal hasil kajian awal menunjukkan kandungan bakteri E-coli yang cukup tinggi.

Kandungan Bakteri Tinggi, Air Tidak Layak Konsumsi

“Berdasarkan hasil kajian awal Badan Geologi dan pemeriksaan Dinas Kesehatan, kualitas air menunjukkan kandungan bakteri yang cukup tinggi,” ujar Wagub Sumbar Vasko Ruseimy di Kota Padang, Senin (12/1/2026), dilansir Antara. Ia menjelaskan bahwa dari sisi potential of hydrogen (PH) atau potensi hidrogen, air ini berada di bawah 6,5. Oleh karena itu, pemerintah mengimbau dan mengingatkan agar masyarakat untuk tidak mengonsumsinya.

“Jadi kalau bisa tolong jangan diminum. Ibaratnya seperti air di sungai pada umumnya,” tegas Vasko.

Pemerintah Provinsi Sumbar bersama Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota, Badan Geologi, dan instansi terkait terus melakukan pemantauan serta kajian lanjutan guna memastikan keselamatan masyarakat di sekitar lokasi kejadian. Wagub berharap penjelasan tersebut dapat menjadi pedoman bagi masyarakat sekitar agar tidak keliru memanfaatkan air dari lokasi sinkhole.

Fenomena Alam, Bukan Penyembuh Penyakit

Pada kesempatan itu, Vasko menekankan bahwa fenomena sinkhole ini murni proses alam, dan tidak berkaitan dengan hal-hal mistis maupun klaim dapat menyembuhkan penyakit.

“Tidak ada air ini (air sinkhole) untuk menyembuhkan penyakit atau demi kesehatan. Itu tidak ada,” tegasnya.

Selain itu, Wagub mengingatkan masyarakat untuk tetap mematuhi batas pengamanan yang telah ditetapkan. Pihak kepolisian telah memasang garis polisi dengan jarak aman dari bibir lubang minimal 50 meter, mengingat kondisi tanah masih berpotensi amblas.

Kajian Lanjutan Terus Dilakukan

Dari hasil perhitungan cepat, Vasko menjelaskan kandungan total zat terlarut (TDS) dan besi (Fe) masih tergolong aman. Namun, tingginya kandungan bakteri E-coli menjadi faktor utama yang membuat air tersebut tidak layak dikonsumsi tanpa proses pengolahan terlebih dahulu.

Kajian lebih mendalam juga masih terus dilakukan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar bersama Badan Geologi. Hasil kajian komprehensif nantinya akan menjadi dasar rekomendasi teknis yang diserahkan kepada Bupati Limapuluh Kota untuk menentukan kebijakan lanjutan terkait pemanfaatan dan pengamanan kawasan.