Wamensos: Pemutakhiran Data Kunci Sukses Bansos dan Cadangan Pangan 2026

Author Image

Irfan

29 Desember 2025

Foto: Kemensos
Foto: Kemensos

Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menekankan pentingnya sinergi antara Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan) dan Kementerian Sosial (Kemensos) untuk memastikan ketepatan sasaran bantuan pangan dan bantuan sosial. Upaya pemutakhiran data terpadu menjadi kunci utama dalam mendukung perencanaan program tahun 2026.

Sinergi Data untuk Bantuan Tepat Sasaran

Agus Jabo menjelaskan bahwa seluruh program kerja Kemensos, termasuk Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), dan ATENSI bagi kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas, disalurkan menggunakan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Hal ini sesuai dengan amanat Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025.

“Sasaran program kerja Kemensos adalah memberikan bantuan sosial, baik PKH maupun BPNT, ATENSI untuk kelompok rentan, serta program pemberdayaan. Seluruhnya kami salurkan menggunakan data tunggal sosial ekonomi nasional,” ujar Agus dalam keterangan tertulis, Senin (19/12/2025).

Pernyataan ini disampaikan Agus dalam rapat penetapan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) tahun 2026 yang dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan beserta kementerian dan lembaga terkait di Jakarta.

Target Program Kemensos 2026

Untuk tahun 2026, Kemensos menargetkan PKH menjangkau 10 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Selain itu, program BPNT dan pemberdayaan sosial ekonomi juga ditargetkan untuk 15 ribu penerima. Seluruh bantuan akan disalurkan secara nontunai melalui transfer rekening atau PT Pos Indonesia.

Koordinasi Krusial dengan Kemenko Pangan

Dalam konteks ketahanan pangan, Wamensos menyoroti krusialnya koordinasi dengan Kemenko Pangan. Tujuannya agar penyaluran bantuan sosial dari Kemensos selaras dengan bantuan pangan pemerintah.

“Kaitannya dengan Badan Pangan, kami selalu berkoordinasi dalam pemutakhiran data agar bantuan sosial oleh Kemensos bersinergi dengan bantuan pangan. Korelasi ini harus dinamis antara Kemensos dan Kemenko Pangan, terutama dalam pemutakhiran data penerima,” tegasnya.

Mekanisme Pemutakhiran Data Berlapis

Agus Jabo merinci bahwa pemutakhiran data dilakukan secara berlapis. Proses ini dimulai dari pendataan di tingkat desa, dilanjutkan dengan validasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS), dan diakhiri dengan pengecekan langsung di lapangan oleh pendamping PKH.

“Data dari desa kami validasi bersama BPS, kemudian dilakukan pengecekan langsung oleh pendamping PKH. Transparansi itu penting agar bantuan benar-benar tepat sasaran,” tambahnya.

Kesiapan Cadangan Pangan Pemerintah 2026

Sementara itu, Menko Pangan Zulkifli Hasan menyatakan bahwa rapat tersebut membahas kesiapan pemerintah menghadapi peningkatan produksi pangan pada 2026. Penetapan cadangan pangan menjadi fokus untuk menjaga stabilitas harga dan distribusi.

“Hari ini kami rapat mengenai penetapan cadangan pangan pemerintah tahun 2026. Produksi diperkirakan lebih tinggi dari tahun ini, sehingga kita harus bersiap dari sisi penyerapan dan distribusinya agar harga tidak jatuh,” kata Zulkifli.

Pemerintah menyepakati peningkatan cadangan beras pemerintah dari 3 juta ton menjadi 4 juta ton. Cadangan ini akan digunakan untuk berbagai intervensi, termasuk bantuan pangan dan program stabilisasi harga.

Zulkifli juga menekankan peran Bulog sebagai ujung tombak distribusi pangan nasional, khususnya untuk menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.

“Bulog menjadi andalan kita, baik untuk penyaluran SPHP, penyerapan gabah, hingga pengendalian harga. Ini penting agar pangan bisa menjangkau seluruh wilayah Indonesia,” ujar Zulkifli.

Melalui sinergi pemutakhiran data dan perencanaan lintas sektor ini, Kemensos berharap penyaluran bantuan sosial dan bantuan pangan pada 2026 dapat berjalan lebih tepat sasaran dan berkelanjutan, demi mendukung ketahanan pangan nasional serta perlindungan sosial bagi masyarakat.