Wapres Ke-6 RI Try Sutrisno Tutup Usia di RSPAD Gatot Soebroto

Wakil Presiden Republik Indonesia keenam, Jenderal TNI (Purn) , telah berpulang. Beliau mengembuskan napas terakhir pada Senin, 2 Maret 2026, sekitar pukul 06.58 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, . Try Sutrisno wafat pada usia 90 tahun 3 bulan setelah sebelumnya mengalami penurunan kondisi kesehatan.

Kabar duka ini telah dikonfirmasi oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi. Selain itu, Tim Komunikasi Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD) Egy Massadiah juga menyampaikan informasi wafatnya almarhum melalui pesan singkat.

Menurut informasi yang beredar, sebelum meninggal dunia, Try Sutrisno sempat mendapatkan penanganan intensif di Ruang CICU Kamar 207 Lantai 2 . Pihak keluarga menerima kabar penurunan kondisi kesehatan beliau sekitar pukul 05.33 WIB, dan tim medis telah melakukan penanganan sesuai prosedur yang berlaku.

Rencananya, jenazah almarhum akan dimandikan di rumah duka RSPAD. Setelah itu, jenazah akan dibawa ke rumah duka pribadi di Jalan Purwakarta Nomor 6, , Jakarta Pusat, untuk disemayamkan. Adapun rencana pelaksanaan salat jenazah dan prosesi pemakaman masih menunggu keputusan lebih lanjut dari pihak keluarga.

Try Sutrisno lahir di Surabaya pada 15 November 1935. Ia memulai karier militernya pada tahun 1957 dengan berperang melawan Pemberontakan PRRI di Sumatra. Beliau menyelesaikan pendidikan militernya di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) pada tahun 1959.

Sepanjang perjalanan kariernya, Try Sutrisno memegang sejumlah jabatan penting. Ia pernah menjadi ajudan Presiden Soeharto pada tahun 1974, kemudian menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) dari tahun 1986 hingga 1988. Puncak karier militernya adalah saat menjabat Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dari tahun 1988 hingga 1993. Setelah itu, beliau dipercaya sebagai Wakil Presiden Indonesia keenam, mendampingi Presiden Soeharto, dari tahun 1993 hingga 1998.

Semasa menjabat Panglima ABRI, Try Sutrisno juga terlibat dalam penanganan insiden Tanjung Priok pada tahun 1984. Pihak keluarga menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan almarhum semasa hidup, serta memohon doa agar amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT.