Waskita Karya dan Kementerian PUPR Rampungkan Puluhan Huntara Nyaman di Aceh Utara Jelang Lebaran

Author Image

Hodak

26 Februari 2026

waskita karya, kementerian pupr, aceh utara, hunian sementara, banjir aceh 2025

PT (Persero) Tbk bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah merampungkan pembangunan puluhan unit (Huntara) di Kecamatan Langkahan, . Proyek ini disiapkan untuk menampung sekitar 300 warga terdampak bencana agar dapat merayakan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 dalam kondisi hunian yang lebih layak dan nyaman. Sebagian dari unit-unit tersebut bahkan telah mulai dihuni oleh warga.

Menteri PUPR, Dody Hanggodo, saat meninjau langsung lokasi pembangunan di Aceh Utara, didampingi Direktur Operasi II Waskita Karya, Paulus Budi Kartiko, memastikan kesiapan fasilitas tersebut. Dody menyampaikan bahwa lima blok huntara dengan kapasitas sekitar 60 Kepala Keluarga (KK) telah selesai dan mulai ditempati. Sementara itu, blok lainnya ditargetkan rampung sebelum Idulfitri. “Sehingga begitu kita selesai membangun, masyarakat bisa langsung masuk,” ujar Dody. Secara keseluruhan, menargetkan 44 blok huntara di Aceh Utara rampung sebelum Lebaran 2026, yang akan menyediakan 528 unit hunian.

Pembangunan huntara ini merupakan respons terhadap dampak bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Aceh Utara sejak akhir November 2025. Bencana tersebut merendam sedikitnya 25 kecamatan dan menyebabkan ribuan warga mengungsi, dengan Aceh Utara menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara sendiri telah menetapkan masa transisi darurat menuju pemulihan pascabencana selama satu bulan, terhitung mulai 6 Januari hingga 5 Februari 2026.

Huntara yang dibangun oleh Waskita Karya dirancang dengan sistem modular menggunakan struktur baja ringan, memungkinkan proses konstruksi yang cepat dan efisien tanpa mengesampingkan kualitas dan kenyamanan. Setiap unit dilengkapi dengan insulated panel untuk menahan panas, serta ventilasi, exhaust fan, dan kipas angin guna menjaga sirkulasi udara tetap baik dan menciptakan suasana sejuk di dalam ruangan. Menteri Dody Hanggodo bahkan mengapresiasi kualitas bangunan tersebut, menyatakan, “Fasilitasnya (sesuai) standar, lebih nyaman di dalam daripada di sini (di luar Huntara). Di sini panas, di dalam tuh saya dingin malah, nggak gerah, benar-benar nggak gerah di dalam.”

Selain unit hunian, kawasan huntara juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung untuk menunjang aktivitas sehari-hari warga. Fasilitas tersebut meliputi toilet komunal, kamar mandi, toilet difabel, area cuci, dapur bersama, instalasi listrik dan pencahayaan, serta jaringan air bersih dan sanitasi. Tersedia pula tempat pembuangan limbah untuk menjaga kebersihan lingkungan. Corporate Secretary Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, menjelaskan bahwa pembangunan ini merupakan wujud komitmen perseroan. “Pembangunan Huntara merupakan wujud komitmen Perseroan untuk menghadirkan hunian sementara yang memiliki standar kelayakan dan kualitas terjaga. Kehadiran Huntara ini, kata dia, turut mendukung pemulihan layanan dasar bagi warga terdampak bencana,” ujar Ermy.

Kenyamanan yang ditawarkan huntara ini dirasakan langsung oleh warga. Salah satu warga Aceh Utara, Wani Safrianti, mengungkapkan perasaannya setelah menempati hunian baru. “Sekarang sudah nyaman tinggal di Huntara. Sudah tidak panas lagi. Tinggal di sini lebih nyaman dibandingkan di camp (tenda) pengungsian,” tutur Wani. Ermy menambahkan, “Bagi Waskita Karya kenyamanan para warga di Huntara merupakan prioritas utama. Harapan kami, hunian yang dibangun bersama Kementerian PU ini dapat menjadi tempat berkumpul kembali bersama keluarga dan menjalani aktivitas normal.”

Percepatan pembangunan huntara ini didukung oleh koordinasi yang baik antara Kementerian PUPR, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Lahan untuk pembangunan disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Ke depan, Waskita Karya bersama Kementerian PUPR juga berencana melanjutkan serah terima huntara di beberapa wilayah lain, termasuk kawasan Aceh Utara 2, Bener Meriah, dan Subulussalam.