Pasar Surat Utang Negara (SUN) Indonesia kembali menjadi sorotan investor pada akhir Maret 2026, menunjukkan pergerakan yang fluktuatif di tengah sentimen global yang penuh ketidakpastian dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal domestik. Meskipun sempat diburu investor pada tenor pendek hingga menengah, tekanan jual masih membayangi, terutama pada obligasi jangka panjang.
Data terbaru pada 26 Maret 2026 menunjukkan yield SUN tenor 10 tahun mengalami penurunan 3,7 basis poin (bps) menjadi 6,9%. Namun, pergerakan ini terjadi setelah sebelumnya yield SUN 10 tahun melonjak signifikan, bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak Juni 2025, mencapai 6,86% pada 24 Maret 2026. Angka ini bahkan sempat menembus 6,91% pada 16 Maret 2026, yang merupakan level tertinggi sejak Mei 2025. Kenaikan yield ini mencerminkan penurunan harga obligasi, menandakan investor cenderung melepas kepemilikan surat utang pemerintah di tengah naiknya risiko.
Sentimen Global dan Domestik Picu Aksi Jual
Gejolak geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama sentimen risk-off global, yang kemudian memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi. Kondisi ini mendorong pelaku pasar global untuk mengurangi eksposur pada aset-aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia, dan beralih ke instrumen yang lebih likuid seperti dolar AS.
Di sisi domestik, kekhawatiran terhadap ketahanan fiskal Indonesia juga turut menyumbang tekanan. Lonjakan harga minyak, misalnya, dapat berdampak langsung pada anggaran negara, terutama dengan adanya skema subsidi energi. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 berisiko melebar melewati 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) di tengah eskalasi konflik global. Pemerintah sendiri menargetkan penerbitan SBN neto pada tahun 2026 sebesar Rp749,20 triliun.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyoroti bahwa tekanan jual investor asing dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Ia menyebut, “Ini sejalan dengan keputusan Moody’s yang mempertahankan peringkat Indonesia di Baa2, namun menurunkan prospeknya menjadi negatif. Moody’s menilai ada risiko penurunan kepastian kebijakan yang, jika berlanjut, dapat mengganggu kinerja ekonomi.” Senada, Fitch Ratings juga memangkas outlook rating utang Indonesia dari stabil menjadi negatif pada 4 Maret 2026.
Minat Investor Asing Menurun, Beban Utang Meningkat
Penurunan minat investor terhadap SUN tercermin dari anjloknya rasio bid-to-cover. Pada Januari 2026, rasio ini mencapai 2,27 kali, namun merosot menjadi 1,49 kali pada Maret 2026. Penawaran masuk pada lelang SUN juga mengalami penurunan signifikan, dari Rp 90,96 triliun pada 6 Januari 2026 menjadi Rp 50,9 triliun pada 3 Maret 2026. Arus keluar modal asing dari pasar surat utang Indonesia tercatat mencapai US$1,027 juta atau sekitar Rp16 triliun lebih sejak awal Maret hingga 16 Maret 2026.
Kenaikan yield SUN memiliki implikasi serius bagi keuangan negara. Semakin tinggi yield, semakin besar pula biaya bunga utang yang harus dibayarkan pemerintah. Asumsi tingkat suku bunga SBN tenor 10 tahun dalam APBN 2026 disepakati berada di level 6,9%. Jika tren kenaikan yield berlanjut, beban bunga utang pemerintah berpotensi semakin berat, menekan ruang fiskal negara.
Meskipun demikian, pasar SUN Indonesia masih menawarkan imbal hasil yang menarik dibandingkan aset safe haven. Selisih (spread) yield SUN tenor 10 tahun Indonesia dengan US Treasury (UST) 10 tahun berada di kisaran 250-260 bps atau 2,5%. Namun, spread yang lebar ini juga mencerminkan kompensasi risiko yang diminta investor untuk menempatkan dana di negara berkembang seperti Indonesia.
Peran Investor Domestik dan Proyeksi Jangka Panjang
Di tengah ketidakpastian global, permintaan domestik diperkirakan tetap menjadi penopang utama pasar obligasi Indonesia. Hal ini didukung oleh stabilitas inflasi dan potensi ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), meskipun BI masih mempertahankan suku bunga acuan di level 6% dan diperkirakan baru akan memangkasnya pada pertengahan 2026.
Fitch Ratings memproyeksikan aktivitas pasar utang atau debt capital market (DCM) Indonesia akan terus tumbuh, dengan nilai outstanding mencapai sekitar USD750 miliar pada akhir 2026. Indonesia juga menjadi penerbit sukuk terbesar di dunia pada tahun 2025, dengan porsi sukuk sekitar separuh penerbitan DCM. Namun, prospek positif ini tetap dibayangi oleh risiko volatilitas rupiah, harga komoditas, perlambatan ekonomi Tiongkok, dan perubahan sentimen pasar negara berkembang.