Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kembali mendesak Amerika Serikat untuk menyepakati kerja sama produksi drone bernilai fantastis, mencapai sekitar 35 hingga 50 miliar dolar AS atau setara Rp525 triliun hingga Rp750 triliun. Dorongan ini disampaikan menjelang pertemuan tim negosiasi Ukraina dengan pejabat AS pada Sabtu, 21 Maret 2026, untuk membahas potensi kesepakatan tersebut.
Namun, upaya Kyiv ini menghadapi tantangan serius setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Washington tidak memerlukan keahlian drone dari Ukraina. Trump bahkan menegaskan, “orang terakhir yang kami butuhkan bantuannya adalah Zelenskyy.”
Detail Penawaran Drone Ukraina
Proposal yang diajukan Ukraina mencakup kerangka kerja senilai 35-50 miliar dolar AS yang akan memberikan akses kepada AS terhadap teknologi dari sekitar 200 perusahaan drone, kecerdasan buatan (AI), dan perang elektronik Ukraina. Setengah dari total produksi drone tersebut akan dialokasikan untuk mitra Amerika.
Zelenskyy menjelaskan bahwa struktur kesepakatan ini dirancang fleksibel, memungkinkan pihak AS untuk memilih di antara berbagai produsen dan teknologi seiring perkembangannya. Salah satu opsi yang dibahas adalah fasilitas manufaktur drone bersama di tanah AS dengan partisipasi setara antara Ukraina dan Amerika.
Penawaran ini mencakup berbagai jenis drone, termasuk drone pencegat, drone laut, sistem serangan jarak jauh, jaringan radar, dan perangkat lunak perang elektronik. Presiden Ukraina juga menyebutkan kemungkinan pengembangan drone bawah air. Sistem pertahanan udara ini dirancang untuk beroperasi sebagai satu kesatuan, mampu bertahan melawan ratusan atau bahkan ribuan drone Shahed dan rudal buatan Iran.
Sebagai imbalannya, Ukraina mengharapkan pendanaan dan kemampuan pertahanan rudal balistik, seperti sistem Patriot, yang sangat dibutuhkan Kyiv. Ukraina telah mengajukan proposal ini kepada Gedung Putih hampir setahun yang lalu, namun belum menerima respons formal.
Respons dan Konteks dari AS
Meskipun ada penolakan publik dari Presiden Trump, Zelenskyy mengklaim bahwa Trump dan pejabat militer AS sebelumnya telah menunjukkan minat pada proyek tersebut. Institusi militer AS bahkan beberapa kali menghubungi Kementerian Pertahanan Ukraina untuk meminta bantuan, yang selalu dipenuhi oleh Kyiv.
Konflik yang memanas di Timur Tengah, terutama serangan drone Iran terhadap pangkalan AS, mungkin akan mendorong pejabat Amerika untuk mempertimbangkan kembali proposal ini. AS sendiri telah mengirimkan sistem anti-drone yang teruji di medan perang Ukraina ke Timur Tengah untuk mengatasi ancaman drone Shahed Iran. Laporan menunjukkan bahwa AS sempat menolak tawaran teknologi anti-drone dari Ukraina pada tahun 2025, namun kemudian menunjukkan minat setelah perang Iran pecah.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin menyatakan bahwa AS akan terus berinvestasi dalam kemampuan serangan jarak jauh Ukraina, termasuk drone serang, dengan alokasi dana sebesar 800 juta dolar AS. Ini merupakan inisiatif terpisah dari kesepakatan produksi drone yang diusulkan Ukraina. Kongres AS juga telah menyetujui alokasi 400 juta dolar AS untuk Inisiatif Bantuan Keamanan Ukraina (USAI) untuk tahun fiskal 2026 dan 2027, meskipun jumlah ini menurun drastis dari sebelumnya.
Pengalaman Ukraina dan Upaya Diplomasi
Ukraina telah membuktikan keahliannya dalam menghadapi drone Shahed buatan Iran, yang telah digunakan Rusia dalam lebih dari 57.000 serangan ke Ukraina. Kyiv telah mengembangkan drone pencegat berbiaya rendah yang sangat efektif, jauh lebih murah dibandingkan rudal pertahanan udara Patriot yang berharga 3-4 juta dolar AS per unit, sementara drone Shahed hanya sekitar 130.000-150.000 dolar AS.
Memanfaatkan pengalaman tempur ini, Ukraina telah mengirimkan tim ahli anti-drone ke Timur Tengah atas permintaan mitra, termasuk AS, untuk membantu menangkal serangan drone Iran. Tim-tim ini telah dikerahkan ke Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan pangkalan militer AS di Yordania.
Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina siap menawarkan kesepakatan serupa kepada semua mitra yang dapat dipercaya. Kyiv juga melihat kesepakatan produksi drone sebagai alat untuk mendapatkan pengaruh diplomatik dalam negosiasi perdamaian dengan Moskow, yang saat ini terhenti akibat konflik di Iran.