Sebanyak 74 warga binaan pemasyarakatan (WBP) atau narapidana (napi) baru di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang, Jakarta Timur, mengikuti kegiatan admisi orientasi. Program ini merupakan langkah awal pembinaan dan adaptasi bagi para napi baru agar memahami sistem yang berlaku sejak hari pertama menjalani masa pidana.
Fondasi Pembinaan Positif
Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Wachid Wibowo, menyatakan bahwa admisi orientasi menjadi fondasi utama dalam menciptakan iklim pembinaan yang aman, tertib, dan berorientasi pada perubahan perilaku positif. Melalui kegiatan ini, napi baru diharapkan memahami hak dan kewajiban, serta aturan dan program-program yang tersedia di dalam lapas.
“Admisi Orientasi bukan sekadar pengenalan lingkungan, tetapi komitmen kami untuk memastikan setiap warga binaan memahami aturan, hak, dan kewajibannya sejak awal. Dengan pemahaman yang baik, warga Binaan diharapkan mengikuti pembinaan secara optimal, disiplin, dan bertanggung jawab,” jelas Wachid dalam keterangan pada Senin (19/1/2026).
Akses Informasi dan Pengembangan Diri
Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan Lapas Cipinang, Endi Budi Hernadi, menekankan komitmen lapas untuk membuka akses informasi seluas-luasnya bagi napi baru. Ia menambahkan bahwa lapas menyediakan sarana bagi napi untuk mengembangkan dan memperbaiki diri agar kelak siap kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih positif.
“Kami memastikan warga binaan mengetahui seluruh program pembinaan yang tersedia, mulai dari pembinaan kepribadian dan kemandirian, layanan keagamaan, pendidikan, hingga pembinaan sosial. Setiap warga binaan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan memperbaiki diri,” terang Endi.
Kegiatan admisi orientasi ini sendiri telah dimulai sejak Rabu (14/1). Salah satu napi baru berinisial HTI mengaku kegiatan ini sangat membantunya dalam memahami situasi dan proses pembinaan yang akan dijalani, sehingga secara psikologis ia merasa lebih tenang.
“Dengan adanya penjelasan sejak awal, saya jadi lebih tenang dan paham apa yang harus saya lakukan selama di sini. Ini membuat saya lebih siap mengikuti pembinaan dan berusaha berubah menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Dukungan Sistem PRIMA
Wachid kembali menegaskan pentingnya sistem pemasyarakatan yang profesional, responsif, integritas, modern, dan akuntabel atau PRIMA. Admisi orientasi, menurutnya, sekaligus mendukung terwujudnya lapas yang aman, tertib, dan kondusif sebagai ruang pembinaan yang bermakna.
“Upaya ini sejalan dengan semangat Kerja Nyata, Pelayanan Prima Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) Tahun 2026,” pungkas Wachid.






