Berita

Atasi Sampah Pantai Bali, Kemenpar dan Pemprov Bentuk Satgas Khusus

Advertisement

JAKARTA – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bersama Pemerintah Provinsi Bali bergerak cepat membentuk Satuan Tugas (Satgas) Sampah Pantai. Langkah ini diambil menyusul sorotan Presiden Prabowo Subianto terhadap persoalan sampah yang menumpuk di destinasi wisata utama tersebut.

Pembentukan Satgas dan Gerakan Wisata Bersih

Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Enik Ermawati, yang akrab disapa Ni Luh Puspa, menyatakan bahwa Satgas Sampah Pantai akan ditempatkan secara khusus di kawasan Pantai Kuta. Satgas ini bertugas melakukan respons cepat ketika terjadi kiriman sampah dari laut.

“Pemerintah Provinsi Bali akan segera membentuk Satgas Sampah Pantai yang secara khusus ditempatkan di kawasan Pantai Kuta. Satgas ini akan bertugas melakukan respons cepat saat terjadi kiriman sampah dari laut,” ujar Ni Luh kepada wartawan, Selasa (3/2/2026).

Selain itu, Kemenparekraf juga telah meluncurkan program Gerakan Wisata Bersih (GWB) sejak tahun 2025. Program ini bertujuan mendorong kesadaran seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga wisatawan, mengenai pentingnya pengelolaan sampah.

“Untuk itu pada tahun 2025 yang lalu, Kemenpar sesuai dengan arahan dari Menteri Pariwisata Ibu Widiyanti Putri Wardhana dibuatlah program Gerakan Wisata Bersih (GWB) yang mana salah satu lokasi dari program ini adalah Bali,” jelas Ni Luh.

Program GWB telah dilaksanakan di berbagai destinasi di Bali dengan melibatkan komunitas peduli sampah seperti Sungai Watch. Hasilnya, telah dikeluarkan Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2020 Tentang Pedoman Pengelolaan Sampah Plastik Di Destinasi Wisata Bahari.

Koordinasi Lintas Kementerian dan Penanganan Sampah Laut

Kemenparekraf juga tergabung dalam Tim Koordinasi Penanganan Sampah Laut yang diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Tim ini melibatkan berbagai kementerian dan lembaga terkait.

Berdasarkan laporan dari Gubernur Bali I Wayan Koster, sampah yang mengotori pantai Kuta merupakan kiriman musiman yang terbawa arus, terutama saat musim hujan pada akhir Desember, Januari, dan awal Februari.

“Seperti yang terjadi di Pantai Kuta adalah sampah kiriman yang datangnya musiman pada saat musim hujan, yaitu khususnya pada akhir Desember, Januari, dan awal Februari. Dan ini berlangsung setiap tahun. Derasnya arus saat musim hujan membuat sampah dapat dengan mudah terbawa dan bermuara ke pantai,” ungkap Ni Luh.

Advertisement

Berbagai upaya penanganan sampah laut di Bali telah dilakukan, termasuk pengolahan sampah menjadi kompos, serta pemasangan trash rack dan trash barrier. Proyek Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali dijadwalkan dimulai Maret 2026 dan ditargetkan beroperasi paling lambat akhir 2027.

Dampak Sampah Terhadap Kunjungan Wisatawan

Meskipun dihadapkan pada persoalan sampah, Kemenparekraf memastikan bahwa hal tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah kunjungan wisatawan. Data menunjukkan tren kenaikan jumlah wisatawan.

“Terkait pengaruh ke jumlah kunjungan wisatawan, kami melihat bahwa sejauh ini tidak ada pengaruh melihat angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali pada periode Januari-September 2024 sebesar 4.745.200 wisman dibanding periode Januari – September 2025 sebesar 5.291.700 wisman, ada peningkatan kunjungan sebesar 11,5%. Sedangkan untuk kunjungan wisatawan nusantara ke Bali pada periode Januari-Oktober 2024 sebesar 25,26 juta kunjungan wisnus dibanding periode Januari-Oktober 2025 sebesar 28,98 juta kunjungan wisnus , ada peningkatan sebesar 14,7 %,” papar Ni Luh.

Sorotan Presiden Prabowo

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyoroti kondisi sampah di pantai Bali yang dianggap dapat mengganggu kenyamanan wisatawan. Ia menerima keluhan dari sejumlah tokoh luar negeri mengenai kebersihan Bali.

“Indonesia indah, dia mau datang, lihat kumuh. Dia mau ke Bali, pantai Bali kotor,” ujar Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).

Prabowo mengisahkan pengalamannya bertemu tokoh internasional yang menyampaikan kekecewaan mereka terhadap kondisi Bali. “Saya di Korea ketemu tokoh-tokoh di Korea, menteri-menteri, jenderal-jenderal, kadang-kadang ya tentara di mana pun dia nggak basa-basi. Dia bilang ‘Your excellency, I just came from Bali. Bali so dirty now. Bali not nice’. Ah saya, tapi saya terima itu sebagai koreksi,” tuturnya.

Presiden kemudian menunjukkan foto kondisi sampah di pantai Bali pada Desember 2025 sebagai bukti. “Ini pantai Bali, bagaimana turis mau datang ke situ lihat sampah?” tanyanya.

Advertisement