Bandung Barat – Tragedi gerakan tanah yang menimbun 30 hektare lahan di Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat, pada Sabtu (24/1/2026) dini hari, diungkapkan oleh Badan Geologi bukan sekadar bencana hidrometeorologi biasa. Analisis mendalam menunjukkan adanya kombinasi fatal antara struktur geologi purba yang rapuh dan kejenuhan air tanah yang memicu kegagalan lereng di kawasan padat penduduk tersebut.
Kombinasi Geologi Purba dan Air Tanah
Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa karakteristik tanah di lokasi kejadian merupakan “sebuah bom waktu geologis yang akhirnya meledak.” Berdasarkan analisis data sekunder dan deskwork terkini, lokasi bencana yang berada di koordinat LS 6,796861° dan BT 107,539694° ini berdiri di atas satuan batuan Formasi Endapan Gunungapi Tua Tidak Terpisahkan (QVu).
“Satuan ini umumnya terdiri atas breksi vulkanik, tuf, lava andesit-basalt, serta material piroklastik yang telah mengalami pelapukan kuat,” ujar Lana di Bandung, seperti dilansir Antara, Senin (26/1/2026). Pelapukan lanjut pada batuan vulkanik ini menurunkan kuat geser tanah secara drastis.
Struktur Geologi dan Pemicu Utama
Situasi diperparah oleh keberadaan struktur geologi berupa sesar dan rekahan berarah barat laut-tenggara. Celah-celah mikroskopis ini menjadi jalan bagi air hujan untuk menyusup jauh ke dalam tanah, menciptakan bidang-bidang lemah yang siap menggelincirkan material tanah.
Faktor pemicu utama yang tak terelakkan adalah curah hujan tinggi. Infiltrasi air hujan yang intensif ke dalam lapisan tanah pelapukan menyebabkan peningkatan tekanan air pori (pore water pressure) yang signifikan. Ketika tekanan air ini meningkat, daya ikat (kohesi) tanah melemah. Pada saat gaya pendorong lereng melebihi gaya penahan, terjadi pergerakan massa tanah dan batuan mengikuti bidang gelincir yang berkembang pada zona lemah. Hal ini menjelaskan mekanisme teknis mengapa longsoran mencakup luasan yang begitu besar.
Aktivitas Manusia Mempercepat Bencana
Selain faktor alam, aktivitas manusia turut mempercepat proses ini. Tata guna lahan yang didominasi permukiman dan pertanian, ditambah pemotongan lereng untuk jalan tanpa sistem drainase memadai, telah mengganggu kestabilan lereng alami yang kemiringannya mencapai lebih dari 40 derajat di beberapa titik.
Rekomendasi dan Mitigasi
Mengingat lokasi kejadian masuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah dalam Peta ZKGT, tim teknis mengeluarkan rekomendasi krusial yang wajib dipatuhi demi mencegah bertambahnya korban jiwa. Rekomendasi teknis menegaskan agar masyarakat di sekitar lokasi terdampak segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
“Penanganan longsoran dan pencarian korban hilang agar memperhatikan cuaca, agar tidak dilakukan pada saat dan setelah hujan deras,” ucap Lana. Peringatan ini krusial karena pergerakan tanah susulan bisa menimpa petugas SAR dan relawan yang bekerja di zona bahaya.
Pemasangan rambu rawan bencana dan sosialisasi mitigasi kini menjadi prioritas mendesak. Masyarakat diminta untuk tidak hanya mewaspadai hujan, tetapi juga memahami gejala-gejala awal gerakan tanah di lingkungan tempat tinggal mereka.
Dampak Longsor Cisarua
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mengungkapkan hingga saat ini, akibat kejadian longsor tersebut, terdata 19 orang dinyatakan meninggal dunia, 73 jiwa masih dinyatakan hilang, 666 orang mengungsi, dan 51 unit rumah mengalami rusak berat.






