Abu Dhabi – Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menjadi salah satu pembicara dalam forum Majelis Persaudaraan Manusia Zayed Award 2026 yang diselenggarakan di Museum Nasional Zayed, Abu Dhabi, pada Selasa (3/2/2026) sore. Dalam kesempatan tersebut, Megawati memaparkan pandangannya mengenai kepemimpinan perempuan, sembari berinteraksi dengan sejumlah tokoh dunia yang hadir.
Megawati didampingi oleh putranya, Muhammad Prananda Prabowo, yang juga menjabat sebagai Ketua DPP PDIP. Turut hadir pula Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab, Judha Nugraha, Ketua DPP PDIP bidang Luar Negeri Ahmad Basarah, dan Dubes RI untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi.
Dalam forum tersebut, Megawati duduk diapit oleh Presiden Timor Leste, Ramos Horta, dan aktivis India peraih Nobel Perdamaian 2014, Kailash Satyarthi. Ketiganya terlihat terlibat dalam percakapan hangat, bahkan Megawati sempat meminta Ahmad Basarah untuk mengabadikan momen tersebut melalui foto.
Kedekatan antara Megawati dan Ramos Horta semakin terlihat saat Presiden Timor Leste itu dengan ramah menggandeng Megawati menuju panggung pembicara.
Tokoh-tokoh Pembicara Lainnya
Selain Megawati, forum tersebut juga menghadirkan sejumlah pembicara terkemuka lainnya, antara lain:
- Ibu Negara Libanon, Nehmat Aoun
- Ibu Negara Pakistan, Aseefa Bhutto Zardari
- Ibu Negara Kolombia, Veronica Alcocer Garcia
- Kepala Administrasi Presiden Republik Uzbekistan, Saida Mirziyoyeva
- Wakil Presiden Heydar Aliyev Foundation, Leyla Aliyeva
Moderator sesi ini adalah Mina Al-Oraibi.
Momen Interaksi di Panggung
Salah satu momen menarik terjadi saat Megawati bersiap menyampaikan pidatonya. Leyla Aliyeva langsung menyodorkan mikrofon kepadanya. Tak lama berselang, pena yang dipegang Megawati terjatuh. Nehmat Aoun, yang duduk di sampingnya, sigap membantu mengambilkan pena tersebut.
Usai sesi panel berakhir, seluruh pembicara menghampiri dan menyalami Megawati. Ia juga sempat berbincang akrab dengan Aseefa Bhutto Zardari.
Sebelum meninggalkan panggung, Megawati digandeng oleh Sekretaris Jenderal Zayed Award, Mohamed Abdelsalam. Sebelum pulang, Megawati juga menyempatkan diri berbincang dengan sejumlah tokoh lain yang ingin berkenalan dan bertukar kartu nama.
Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai Perekat Bangsa
Dalam paparannya, Megawati menekankan pentingnya Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai falsafah yang menyatukan Indonesia. Ia berbagi pengalaman memimpin Indonesia pada periode 2001-2004, di mana negara menghadapi berbagai konflik horizontal.
“Ketika saya menjabat sebagai Wakil Presiden tahun 1999 sampai 2001, dan kemudian Presiden Republik Indonesia pada periode 2001 sampai 2004, negara menghadapi konflik horizontal yang mengancam sendi persatuan nasional, seperti di Poso (Sulawesi Tengah) dan Ambon (Maluku). Kalau tidak pernah ke Indonesia, mungkin tidak akan bisa mengerti karena tempatnya terpecah-pecah oleh pulau. Maka betul-betul kalau kita tidak mempunyai rasa kemanusiaan, akan sangat sulit mempersatukan satu dengan lainnya,” ujar Megawati.
Megawati menjelaskan bahwa konflik yang terjadi pada awal 2000-an tersebut berakar pada isu agama dan etnis. Ia menegaskan bahwa pemerintahannya berupaya hadir sebagai penjamin rekonsiliasi, bukan kekuatan represif.
“Melalui pendekatan dialog, pemerintahan yang saya pimpin memfasilitasi perundingan damai yang menghasilkan jalan penyelesaian konflik secara musyawarah dan mufakat, dan mengakhiri konflik itu serta menghasilkan rekonsiliasi nasional,” tambahnya.
Berkaca dari pengalaman tersebut, Megawati menekankan bahwa Pancasila bukan sekadar ideologi formal, melainkan jiwa bangsa Indonesia.
“Pancasila berfungsi sebagai dasar berpijak dan bintang penuntun ke mana arah dan perjuangan bangsa Indonesia,” pungkas Megawati.






