Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar bertolak ke Mesir pada Minggu (18/1/2026) untuk menjajaki kemungkinan pembukaan cabang Universitas Al-Azhar di Indonesia. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden terkait kerja sama pendidikan dengan salah satu kampus tertua di dunia Islam tersebut.
Kerja Sama Pendidikan dan Seminar Internasional
Dalam kunjungannya, Nasaruddin Umar tidak hanya membahas potensi pembukaan cabang Al-Azhar, tetapi juga akan menjadi pembicara kunci dalam seminar internasional tentang ekoteologi di Universitas Al-Azhar, Kairo. “Akan menindaklanjuti petunjuk Bapak Presiden terkait kemungkinan bekerja sama dengan Al-Azhar di Indonesia sebagaimana pernah dibahas dalam pertemuan bilateral beberapa negara Muslim,” ujar Nasaruddin dalam keterangan resmi Kemenag.
Universitas Al-Azhar, yang didirikan pada tahun 972 Masehi, dikenal sebagai pusat studi hukum Islam terkemuka. Namun, kampus ini juga memiliki cakupan studi yang luas meliputi sains dan teknologi, bisnis, seni, humaniora, pertanian, hingga kedokteran.
Solusi Pendidikan untuk Asia Tenggara
Nasaruddin Umar menilai pembukaan cabang Al-Azhar di Indonesia dapat menjadi solusi bagi mahasiswa di Asia Tenggara yang selama ini harus menempuh perjalanan jauh ke Mesir. “Sudah waktunya Al-Azhar itu dibantu dengan membuka cabang di Indonesia, sehingga anak-anak Asia Tenggara tidak perlu ke Mesir. Cukup ke Indonesia, sementara dosen-dosen Al-Azhar dan fasilitas pembelajarannya disiapkan di sini,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa langkah ini juga dapat membantu Al-Azhar menghadapi beban pendidikan yang semakin berat, terutama mengingat kondisi Mesir yang kini menampung banyak pengungsi dan peningkatan jumlah mahasiswa internasional di tengah tantangan ekonomi.
Dukungan Internasional dan Skema Kerja Sama
Gagasan pembukaan cabang Al-Azhar di Indonesia disebut telah mendapat dukungan dari sejumlah negara Timur Tengah, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, dan Yordania. Skema kerja sama yang diusulkan mencakup program dual degree, joint faculty, atau model pendidikan langsung dengan pengajar dari Universitas Al-Azhar.
Indonesia sebagai Pembicara Ekoteologi
Selain agenda pendidikan, Nasaruddin Umar juga akan menyampaikan pidato sebagai pembicara utama dalam seminar internasional tentang ekoteologi. “Atas izin Bapak Presiden, ada undangan yang sangat terhormat yang diberikan kepada kita sebagai keynote speech di dalam seminar internasional tentang ekoteologi. Dianggap paling representatif untuk bicara ekoteologi saat ini adalah Indonesia,” jelasnya.






