Berita

Mensos Gus Ipul Prihatin Siswa SD NTT Tewas Gantung Diri, Perkuat Data Keluarga Miskin

Advertisement

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul menyatakan keprihatinan mendalam atas kasus tewasnya seorang siswa sekolah dasar (SD) di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ditemukan gantung diri. Kejadian tragis ini, yang disertai dengan surat perpisahan untuk sang ibu, menurut Gus Ipul, harus menjadi perhatian serius bersama.

Atensi Bersama untuk Pendampingan Keluarga Rentan

“Tentu kita prihatin dulu ya, turut berduka. Yang kedua, ya tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama,” ujar Gus Ipul di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2/2026). Ia menekankan pentingnya pendampingan khusus bagi keluarga yang tergolong tidak mampu. Menurutnya, penguatan data sangat krusial untuk memastikan keluarga yang membutuhkan rehabilitasi dan pemberdayaan dapat terjangkau.

“Ya tentu bersama pemerintah daerah. Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita, ya kita harapkan tidak ada yang tidak terdata,” tegasnya. Gus Ipul menambahkan, “Ini hal yang sangat penting saya kira kembali kepada data, bagaimana data ini kita saksikan sebaik mungkin sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi dan memerlukan pemberdayaan. Ya, jadi itu sampai di situ dulu dan ini sungguh-sungguh menjadi perhatian bersama.”

Kementerian Pendidikan Selidiki Penyebab Kasus

Sementara itu, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Abdul Mu’ti menyatakan belum mengetahui secara pasti detail kasus tersebut. Ia berjanji akan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui akar penyebabnya.

“Saya belum tahu, nanti kita selidiki lagi ya penyebabnya apa dan sebagainya,” kata Abdul Mu’ti.

Advertisement

Surat Perpisahan Siswa SD di Ngada

Sebelumnya, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi jasad YBR (10), siswa kelas IV SD yang ditemukan tewas gantung diri di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT. Dalam surat yang ditulis menggunakan bahasa daerah Bajawa tersebut, korban YBR mengungkapkan kekecewaan terhadap ibunya, menyebut sang ibu pelit.

Surat tersebut juga berisi ungkapan perpisahan kepada ibunya. Hingga kini, penyebab pasti kekecewaan YBR terhadap ibunya belum diketahui secara pasti. Beredar kabar bahwa kekecewaan tersebut dipicu oleh ketidakmampuan ibunya untuk membelikan buku tulis untuknya.

Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Advertisement