Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Selly Andriany Gantina, menilai kasus seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengakhiri hidupnya, merupakan cerminan nyata dari kemiskinan struktural. Menurutnya, peristiwa tragis ini terjadi karena negara belum sepenuhnya mampu menjamin hak dasar anak atas pendidikan.
“Saya menegaskan bahwa kemiskinan tidak hanya soal keterbatasan ekonomi, tetapi juga soal runtuhnya martabat, kesehatan mental, dan perlindungan sosial, terutama bagi perempuan dan anak,” ujar Selly kepada wartawan pada Rabu (4/2/2026).
Selly menjelaskan bahwa dalam banyak keluarga miskin, anak-anak seringkali menjadi pihak yang paling rentan menanggung dampak psikologis dan sosial. Padahal, konstitusi telah secara jelas mengatur hak anak untuk mendapatkan pendidikan.
“Tragedi ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan belum sepenuhnya berpihak pada kelompok paling rentan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kasus tersebut seharusnya menjadi alarm bagi negara untuk melakukan evaluasi mendalam, dengan harapan tidak ada lagi kasus serupa yang terulang di masa depan.
“PDI Perjuangan menegaskan posisinya sebagai partai penyeimbang yang menjalankan fungsi kontrol dan pengawasan secara kritis terhadap kebijakan pemerintah. Tragedi ini harus menjadi momentum evaluasi serius bagi negara, baik di tingkat pusat maupun daerah, agar tidak ada lagi anak Indonesia yang kehilangan masa depan, bahkan nyawa akibat kemiskinan dan kelalaian sistem,” tegas Selly.
Lebih lanjut, Selly mendesak adanya penguatan dan integrasi program perlindungan sosial, seraya menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak.
“Negara tidak boleh berhenti pada bantuan sesaat, tetapi harus memperkuat kapasitas keluarga miskin, terutama yang memiliki anak usia sekolah, melalui penguatan ekonomi, akses pendidikan yang utuh, dan pendampingan sosial berbasis kebutuhan nyata di lapangan, agar kemiskinan tidak terus diwariskan lintas generasi,” tutupnya.
Siswa SD Tewas Gantung Diri
Sebelumnya, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi YBR (10), siswa kelas IV sekolah dasar (SD) yang ditemukan tewas gantung diri di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam surat tersebut, korban menulis tentang sosok ibunya.
Surat yang ditulis YBR menggunakan bahasa daerah Bajawa itu, salah satunya berisi ungkapan kekecewaan korban terhadap ibunya yang disebutnya pelit. Selebihnya, surat tersebut berisi ungkapan perpisahan kepada sang ibu.






