Para santri dan guru di Pondok Pesantren (PP) Thariqul Mahfudz, Jembrana, Bali, masih menghadapi dampak banjir bandang yang terjadi pada Oktober 2022. Peristiwa tersebut merusak berbagai perlengkapan belajar, termasuk kitab-kitab rujukan ilmu. Tiga tahun berselang, ketersediaan meja dan buku belajar masih menjadi kendala bagi para santri.
Akibatnya, para santri terpaksa bergantian menggunakan peralatan yang ada untuk memastikan tidak ada yang tertinggal dalam proses menimba ilmu. Wakil Pengasuh PP Thariqul Mahfudz, Ali Fauzi, menceritakan kondisi pasca-banjir. “Hancur semua. Lemari anak-anak campur sama lumpur dan kita perlu satu bulan untuk pembersihan, hingga bisa normal kembali. Anak-anak belajar di sini tanpa meja beralas ubin. Padahal permukaan ubin tidak rata,” ujar Ali Fauzi.
Belajar tanpa meja memaksa para santri harus membungkuk setiap malam. Namun, semangat mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik tidak pernah padam. Beragam tugas sekolah dan pesantren tetap diselesaikan di tengah keterbatasan.
Fitriani, salah satu santri, menggambarkan perjuangannya. “Tiap malam harus bungkuk gitu, jadi kalau bangun kaya nenek-nenek gitu. Punggung dan pinggang rasanya pegal. Setelah belajar, kita jadi tukang pijat gantian dengan teman-teman yang lain untuk meredakan pegal,” tuturnya.
Ujian kembali datang pada Senin (15/12/2025) ketika banjir kembali melanda pesantren tersebut. Menurut Ali, PP Thariqul Mahfudz menjadi salah satu lokasi yang terdampak paling parah. Air menggenangi area kegiatan harian dan menghanyutkan berbagai rujukan ilmu serta perlengkapan santri, pengasuh, dan inventaris pesantren.
Meskipun banjir kali ini disebut Ali sebagai ‘cuma lewat’ dibandingkan tahun 2022, dampaknya tetap merugikan aktivitas sehari-hari. Setelah air surut, seluruh santri dan pengasuh bahu-membahu membersihkan lumpur. Mereka kemudian kembali belajar dan beraktivitas dengan perlengkapan seadanya, termasuk buku dan peralatan sekolah yang digunakan secara bergantian.
Ali berharap para siswa segera mendapatkan perlengkapan sekolah baru, seperti meja lipat, untuk memudahkan proses mengaji, membaca, dan menulis. Penggantian buku dan kitab juga sangat diharapkan agar proses belajar mengajar dapat berjalan lebih optimal.
Kondisi Pesantren dan Tantangan Keuangan
PP Thariqul Mahfudz berlokasi di daerah minoritas muslim di Jembrana, Bali, namun tetap diminati oleh santri dari berbagai daerah seperti Bali dan Jakarta. Pesantren ini menawarkan pendidikan formal dan agama secara gratis, termasuk bagi santri yatim piatu atau dari keluarga kurang mampu.
Jumlah santri terus meningkat, mencapai sekitar 200 santriwan dan santriwati pada tahun 2025. Peningkatan ini menjadi tantangan bagi pengelola untuk memenuhi kebutuhan harian mereka, yang tidak hanya mencakup makanan tetapi juga dana darurat untuk keperluan tak terduga seperti santri sakit atau terkena musibah.
Pesantren telah berupaya memenuhi kebutuhan tersebut dengan membuka layanan air minum isi ulang dan penjualan tiket penyeberangan Jawa-Bali. Namun, pendapatan dari usaha ini belum mencukupi untuk membiayai seluruh keperluan pesantren.
Melalui platform berbuatbaik.id, para santri PP Thariqul Mahfudz mengajak masyarakat untuk memberikan bantuan agar mereka dapat kembali belajar dengan nyaman dan kebutuhan sehari-hari terpenuhi. Donasi disalurkan 100% tanpa potongan kepada penerima manfaat.






