Jakarta – Tiang-tiang monorel yang terbengkalai selama bertahun-tahun di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, akhirnya resmi dibongkar. Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, atau yang akrab disapa Bang Yos, menyatakan rasa leganya atas dimulainya pembongkaran ini.
Pembongkaran Dimulai, 109 Tiang Akan Ditata Ulang
Proses pemotongan tiang monorel pertama dilakukan pada Rabu (14/1/2026) pukul 09.07 WIB. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, turut menyaksikan langsung momen tersebut didampingi Sutiyoso. Pramono menjelaskan bahwa total ada 109 tiang monorel yang akan dipotong dan ditata ulang sebagai bagian dari upaya penataan kawasan.
Menurut Pramono, pembongkaran ini menjadi penanda keseriusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menata fasilitas publik yang terbengkalai. Ia menargetkan seluruh pembongkaran tiang monorel dapat selesai pada bulan September mendatang. “Jumlah tiangnya ada 109 sampai dengan ujung Jalan Rasuna Said. Ini akan ditata rapi dan mudah-mudahan kemacetan juga akan berkurang. Mudah-mudahan September selesai,” ujar Pramono saat meninjau pembongkaran di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan.
Anggaran Penataan Kawasan Rp 102 Miliar
Pramono menegaskan bahwa biaya pembongkaran tiang monorel itu sendiri tidak besar, hanya sekitar Rp 254 juta. Ia meluruskan kesalahpahaman mengenai anggaran yang beredar. “Sekaligus saya ingin meluruskan bahwa yang Rp 100 miliar itu bukan motongnya. Motongnya hanya Rp 254 juta. Yang besar itu penataannya,” jelas Pramono.
Anggaran sebesar Rp 102 miliar akan dialokasikan untuk penataan kawasan Rasuna Said secara menyeluruh. Ini mencakup perbaikan jalan, saluran drainase, trotoar atau pedestrian, penerangan jalan umum (PJU), serta penataan taman dan elemen estetika lainnya. “Penataannya ada jalan, ada selokan, ada pedestrian (trotoar), penerangan jalan umum, dan sarana kelengkapan lainnya. Ini sudah dikaji secara mendalam,” tambahnya.
Sutiyoso Mengenang Gagasan Monorel dan Rasa Lega
Sutiyoso, yang menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 1997-2007, mengenang kembali awal mula munculnya gagasan pembangunan monorel di Jakarta. Ia merasa sangat lega melihat tiang-tiang yang telah mangkrak hampir 22 tahun akhirnya dibongkar. “Jujur saja, hari ini hati saya lega sekali dengan adanya kepastian yang dicanangkan oleh Pak Gubernur Pramono,” kata Sutiyoso.
Ia bercerita bahwa gagasan monorel muncul pada awal tahun 2000-an sebagai solusi jangka panjang mengatasi kemacetan Jakarta. Saat itu, ia mengumpulkan para pakar transportasi untuk merancang jaringan transportasi makro ibu kota. “Hasil kajian itu menyimpulkan Jakarta perlu empat moda transportasi utama, yaitu MRT bawah tanah, monorel di atas, busway, dan waterway, yang terintegrasi satu sama lain,” tuturnya.
Sutiyoso menambahkan bahwa setelah melakukan studi banding ke beberapa negara, monorel dinilai cocok untuk kondisi kota besar seperti Jakarta. Namun, ia menyadari kondisi sosial ekonomi pasca-kerusuhan Mei 1998 membuat kepercayaan investor belum pulih. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk memulai pembangunan busway yang tidak membutuhkan investasi besar.
Meskipun demikian, pembangunan monorel tetap dijalankan secara paralel dan sempat dicanangkan oleh Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri pada tahun 2004 dengan rencana investasi dari China. Namun, proyek tersebut terhenti setelah masa jabatan Sutiyoso berakhir pada 2007. “Setelah itu saya tidak tahu lagi. Tahu-tahu mangkrak dan jadi besi tua yang merusak estetika kota,” ungkapnya.
Pembongkaran Dilakukan Bertahap di Malam Hari
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo, menjelaskan bahwa pembongkaran tiang monorel dilakukan secara bertahap dan dikerjakan pada malam hari, mulai pukul 23.00 hingga 05.00 WIB. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan gangguan terhadap lalu lintas.
“Karena kepadatan lalu lintas di Jakarta itu bahkan sampai jam 22.00 malam, window time-nya kami tetapkan dari jam 23.00 sampai dengan pukul 05.00,” kata Syafrin. Ia memastikan tidak ada penutupan jalan total selama pekerjaan berlangsung, hanya penutupan lajur lambat secara bertahap di titik pekerjaan.
Syafrin menambahkan bahwa skema yang diterapkan adalah satu tiang per malam. Petugas dari Dishub DKI bersama Satpol PP akan disiagakan setiap malam, dengan total sekitar 30 personel, untuk pengaturan lalu lintas dan pengamanan di lokasi.






