Sepakbola

Bek PSG Lucas Hernandez Dituduh Terlibat Perdagangan Manusia oleh Mantan Pekerja

Advertisement

Paris – Bek Paris Saint-Germain (PSG) dan Timnas Prancis, Lucas Hernandez, menghadapi tuduhan serius terkait dugaan perdagangan manusia. Laporan ini muncul setelah sebuah keluarga asal Kolombia yang pernah bekerja untuk Hernandez dan istrinya, Victoria Triay, mengajukan pengaduan resmi.

Kronologi Pengaduan

Keluarga yang terdiri dari lima orang, termasuk suami, istri, dan tiga anak, dipekerjakan oleh Hernandez dan Triay sejak September 2024 hingga November 2025. Mereka bertugas sebagai satpam, pengasuh, dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Namun, menurut pengacara keluarga tersebut, Lola Dubois, Hernandez dan Triay mempekerjakan mereka tanpa status hukum yang jelas.

Lebih lanjut, keluarga tersebut diduga dipaksa bekerja hingga 82 jam per minggu tanpa hari libur, dengan bayaran yang dianggap tidak setimpal. Pengaduan ini juga memuat tuduhan bahwa keluarga tersebut diberikan identitas palsu asal Spanyol dan diminta menandatangani perjanjian kerahasiaan (NDA) pada Februari 2025.

Kontrak Resmi dan Jaminan Sosial

Pada Oktober tahun lalu, keluarga asal Kolombia tersebut akhirnya diberikan kontrak resmi oleh Lucas Hernandez sebagai pekerja paruh-waktu dengan beragam kemampuan. Kontrak ini bertujuan agar mereka mendapatkan jaminan sosial. Dalam dokumen tersebut, tertulis bahwa keluarga tersebut hanya bekerja 86 jam per bulan dengan bayaran sekitar 1.029 euro atau setara dengan Rp 20,3 juta.

Advertisement

Bantahan dari Lucas Hernandez

Menanggapi tuduhan tersebut, Lucas Hernandez langsung memberikan bantahan melalui akun media sosialnya. Ia menegaskan bahwa pemberitaan yang beredar mengada-ada dan menyatakan tidak pernah menahan hak para pekerjanya di rumahnya.

“Kami membuka rumah dan kehidupan kami untuk orang-orang yang memperkenalkan diri sebagai teman, yang meminta kebaikan hati kami dan kepada siapa kami benar-benar memiliki rasa sayang,” tulis Lucas di Instagram Stories miliknya. “Mereka berbagi kehidupan dengan kami lewat rasa hormat dan martabat. Kami membantu dan mendukung mereka, serta percaya ketika mereka mengatakan sedang mengurus legalitas status mereka. Kepercayaan itu dikhianati.”

Lucas menambahkan, “Kami bertindak sebagai manusia, dan mendapat fakta menyakitkan bahwa rasa empati bisa disalahgunakan.”

Sumber: 90Menit.ID

Advertisement