Jakarta – Kreator konten dan YouTuber Codeblu kembali dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri oleh PT Prima Hidup Lestari, pemilik merek Clairmont. Laporan ini terkait dugaan pencemaran nama baik dan pemerasan yang dilakukan oleh Codeblu. Laporan tersebut dilayangkan pada 2 Februari 2026 dan terdaftar dengan nomor STTL/51/II/2026/BARESKRIM.
Kuasa Hukum Clairmont Jelaskan Kronologi Pelaporan
Kuasa hukum Clairmont, Reagan, menyatakan bahwa pihaknya secara resmi melaporkan sosok YouTuber yang disebut berinisial CB dengan nama asli WA ke Bareskrim Mabes Polri. “Terima kasih teman-teman yang sudah hadir. Saya lebih akan menjelaskan lebih ke teknis pelaporan. Jadi yang kami laporkan di sini, yang bersangkutan inisial CB, nama aslinya WA, itu kami laporkan di Mabes Polri,” kata Reagan di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (13/2/2026).
Reagan menjelaskan bahwa laporan tersebut mencakup dua pasal yang relevan dengan dugaan perbuatan Codeblu. “Kami memutuskan menerapkan Pasal 29 dan Pasal 35. Mengapa? Karena Pasal 29 itu erat kaitannya dengan cyber bullying atau adanya mungkin di situ pemerasan yang dilakukan oleh influencer ini,” beber Reagan.
Dugaan Modus Pemerasan dan Manipulasi Data
Terkait dugaan modus, Reagan mengungkapkan adanya tawaran konsultasi dengan nilai fantastis yang dinilai sebagai bentuk pemerasan. Codeblu disebut melakukan pemerasan setelah memberikan ulasan buruk terhadap produk Clairmont, dengan nominal yang ditawarkan mencapai Rp 350 juta. “Karena memang modusnya itu konsultasi. Awalnya bahkan ditawarkan senilai Rp 600 atau 650 juta. Kemudian dengan dalih, ‘Oh saya kasih diskon’ menawarkan kembali Rp 350 juta yang buat kami itu sebenarnya bukan penawaran yang baik, tapi merupakan suatu bentuk pemerasan yang kita sebut sebagai preman digital sekarang,” katanya.
Selain itu, pihak Clairmont juga mempersoalkan dugaan manipulasi data otentik yang dilakukan Codeblu, yang dianggap sebagai fitnah. “Kedua adalah Pasal 35. Kenapa? Karena ada manipulasi data otentik. Contohnya, klien kami ini dituduhkan menyerahkan kue-kue yang sudah berjamur dan busuk ke panti asuhan. Dan yang kedua, menggunakan topper yang bekas kena tangan kemudian disimpan di atas kue terus dijual, padahal itu sebenarnya hanya untuk display,” jelas Reagan.
“Jadi banyak sekali data-data dan informasi yang tidak sesuai dengan kebenarannya yang disebarkan oleh yang bersangkutan. Dan yang ironi adalah ketika kami sempat melaksanakan mediasi, ternyata yang bersangkutan tidak juga memiliki kemampuan untuk mengembalikan kerugian yang dialami klien kami,” tambahnya.
Kerugian Materiel dan Harapan Keadilan
Owner Clairmont, Susana Darmawan, mengaku mengalami kerugian hingga Rp 5 miliar pada periode akhir 2024 hingga 2025 akibat masalah yang disebabkan oleh Codeblu. “Kerugian kami itu bukan kecil ya karena pada saat kami dicemar itu pas peak season di mana kami sudah menyediakan beribu-ribu stok, ratusan juta hingga miliaran inventory yang mana setelah season itu tidak terjual. Tapi kita tetap harus bayar semua supplier, karyawan, dan hidup sebagai pengusaha itu gak gampang seperti apa yang Pak Ikhsan katakan,” ujar Susana.
Ia berharap proses hukum dapat memberikan keadilan dan menjadi pelajaran agar tidak ada lagi pelaku usaha yang dirugikan melalui media sosial. “Kita jatuh bangun untuk mendapatkan kepercayaan, semena-mena kita dijatuhkan begitu saja. Nah sekarang saya ingin hukum yang berbicara, ini bagaimana ke depannya. Saya berharap bahwa tidak ada lagi pengusaha yang dicemar nama baiknya di sosmed,” pungkasnya.
Masalah ini sendiri sudah bergulir sejak akhir 2024. Pada 31 Desember 2024, pihak Clairmont sempat melaporkan Codeblu di Polres Jakarta Selatan dengan dugaan pelanggaran terhadap Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).






