Jakarta – Kasus dugaan bullying dan pelecehan seksual tengah menjadi sorotan setelah menimpa seorang remaja putri berinisial C, anak dari seorang influencer ternama berinisial H. Perundungan dan pelecehan ini diduga dilakukan oleh teman satu sekolahnya di sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Jakarta Timur. Pihak keluarga korban kini tengah berupaya menyelesaikan persoalan ini di lingkungan sekolah, namun tidak menutup kemungkinan untuk membawanya ke ranah hukum mengingat trauma mendalam yang dialami korban.
Informasi ini dirangkum dari berbagai sumber pada Kamis, 22 Januari 2026.
Awal Mula Kasus Terbongkar
Menurut penuturan influencer H, peristiwa ini bermula ketika salah satu teman anaknya, berinisial R, mengajak C untuk menyambut tahun baru bersama. Namun, rencana tersebut baru terungkap setelah C bercerita kepada H. R diduga memiliki rencana untuk membius C saat tahun baru, dengan tujuan yang mengarah pada pelecehan.
“Ternyata si R ini mempunyai rencana mau ngajak si C, itu di tahun baru kemarin mau dibawa kemana gitu, terus mau dibius. Ya kan, mau dibius dengan tujuan pasti kita tahulah arahnya,” ujar H, dilansir Antara, Rabu (21/1).
C yang mendengar kabar tersebut langsung menanyakan langsung kepada R. Namun, R berkelit dengan mengatakan bahwa itu hanyalah candaan. “Anak saya ketika dengar gosip itu langsung tanya, ‘kamu kemarin ngajakin ke aku tahun baruan tuh mau ngebius ?’ Terus dia (R) bilang, ‘iya, tapi aku cuma bercanda kok,’ gitu. Cuma bercanda, gini gini gini. Semua selalu berdalihnya bercanda,” ungkap H.
Korban Kerap Dapat Perundungan Verbal
Selain dugaan pelecehan seksual, C juga dilaporkan pernah menegur R karena membahas hal yang tidak pantas terkait kakak C di sebuah grup percakapan yang berisi puluhan siswa laki-laki. “Dia (R) itu kan punya grup cowo-cowo nih isinya ada 40 orang. Ternyata di grup itu juga ngebahas masalah anak pertama saya. Ada bahasalah di grup-grup seperti itu yang seharusnya tidak pantas,” kata H.
H menambahkan, anaknya juga mengalami perundungan verbal sejak Februari 2025, yang intensitasnya semakin meningkat pada November 2025.
Menanggapi hal ini, Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur II, Horale, menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan pendalaman kasus. “Saat ini kami masih fokus pendalaman case yang terjadi dan berkoordinasi dengan dinas terkait,” kata Horale saat dikonfirmasi secara terpisah.
Terduga Pelaku Diskorsing
H menyayangkan sanksi yang diberikan pihak sekolah kepada terduga pelaku, yang dinilai terlalu ringan. Terduga pelaku hanya mendapat sanksi skorsing selama dua hari.
“Apa harus mati dulu? Saya bilang gitu juga ke kepala sekolah. Apa harus mati dulu baru ini bisa diproses, nih? Baru tuh orang dikeluarkan dari sekolah (drop out/DO),” keluh H.
Ia juga menyoroti banyaknya korban perundungan dan pelecehan yang akhirnya mengakhiri hidup karena tidak sanggup menanggung tekanan psikologis. “Kebetulan anak saya kuat gitu kan menceritakan itu. Sebenarnya dia udah nangis berhari-hari kan tanpa saya tahu tuh. Kalau dia tiba-tiba terjun bebas? Sama kayak orang-orang yang lakukan selama ini,” ungkap H.
Orang Tua Akan Lapor Polisi
H menegaskan tidak akan tinggal diam melihat anaknya menjadi korban. Ia berencana melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian. “Kalau rencana lapor (polisi) itu kemungkinan Jumat (23/1) karena Kamis besok itu aku bakal ditemui sama keluarga si terduga pelaku ini ya, hari Kamis,” kata H.
Korban Alami Trauma
Influencer H mengungkapkan bahwa putrinya, C, mengalami trauma mendalam akibat pelecehan dan perundungan tersebut. C dilaporkan terus menangis dan menunjukkan ketakutan pasca kejadian. “Karena anak saya ternyata dari minggu-minggu lalu, dari yang pulang dari tahun baru, itu dia nangis terus. Saya tanya kenapa, tapi diam aja, dia menjawab ‘enggak, enggak kenapa-kenapa’,” ujar H.






