Berita

Rumah Radio Bung Tomo Hilang, Fadli Zon Cek Balai Pelestarian Budaya Usai Dipertanyakan Prabowo

Advertisement

Presiden Prabowo Subianto sempat mempertanyakan keberadaan Rumah Radio Bung Tomo yang kini dilaporkan hilang. Menanggapi hal tersebut, Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menyatakan pihaknya telah melakukan pengecekan ke Balai Pelestarian Kebudayaan.

Pengecekan Balai Pelestarian Kebudayaan

“Kita sudah cek dari Balai Pelestarian Kebudayaan, nanti kita akan bagaimana meresponsnya begitu,” ujar Fadli Zon usai penganugerahan Profesor Kehormatan di Universitas Nasional, Jakarta Selatan, pada Rabu (11/2/2026). Kendati demikian, Fadli Zon belum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai hasil pengecekan tersebut. Ia meminta publik untuk menunggu proses tindak lanjut yang akan dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan.

Sejarah Rumah Radio Bung Tomo

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto sempat menyoroti hilangnya stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) atau yang dikenal sebagai Rumah Radio yang digunakan Bung Tomo saat pertempuran 10 November. Bangunan bersejarah yang berlokasi di Jalan Mawar Nomor 10, Surabaya, kini dilaporkan sudah tidak menyerupai bentuk aslinya dan tinggal kenangan.

Pantauan di lokasi pada Selasa (3/2) menunjukkan bahwa lokasi yang dulunya menjadi saksi perjuangan kini tertutup pagar tinggi dan nyaris tanpa penanda sejarah. Lahan bekas Rumah Radio Bung Tomo kini telah berdiri bangunan baru bercat putih dengan pagar tinggi berwarna cokelat dan memiliki ujung yang runcing. Dari luar, rumah tampak tertutup rapat dan hanya atap serta bagian atas rumah yang terlihat dari jalan. Tidak tampak nomor rumah, plakat cagar budaya, maupun penanda sejarah lainnya yang mengindikasikan bahwa lokasi tersebut pernah menjadi situs perjuangan.

Padahal, di tempat inilah Bung Tomo bersama para pemuda Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) pernah menyalakan api perlawanan. Melalui stasiun radio mobile berukuran kurang lebih sebesar kulkas, Bung Tomo menyebarkan semangat juang kepada arek-arek Surabaya untuk melawan penjajah.

Advertisement

Bangunan tersebut juga sempat menjadi markas para pejuang sebelum akhirnya diketahui musuh, sehingga mereka terpaksa berpindah ke Jalan Biliton. Meskipun hanya ditempati kurang dari sebulan, peran rumah ini tercatat kuat dalam sejarah.

Melansir buku memoar Sulistina Sutomo berjudul ‘Bung Tomo Suamiku’ (2008), rumah di Jalan Mawar Nomor 10 bahkan pernah menjadi sasaran serangan. Dikisahkan bahwa pesawat penjajah meluncurkan mortir saat melintas di atas bangunan itu, memaksa para pejuang berhamburan menyelamatkan diri. Beruntung, bom dan peluru meleset sehingga bangunan tersebut selamat kala itu.

Namun, nasib bangunan bersejarah ini berubah di masa depan. Rumah Radio Bung Tomo dibongkar pada tahun 2016 dan dipastikan telah rata dengan tanah pada Selasa (3/5).

Advertisement