Berita

Video Call Terakhir Olen Pramugari Korban ATR: “Kru-nya Siapa?”

Advertisement

Jakarta – Pramugari Florencia Lolita Wibisono, 33, yang akrab disapa Olen, menjadi salah satu korban tewas dalam insiden jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Kakak Olen, Natasya Wibisono, menceritakan momen kontak terakhir dengan adiknya sehari sebelum kecelakaan tragis itu terjadi.

Kontak Terakhir Penuh Makna

“Kalau aku kontak terakhir tuh satu hari sebelum kejadian, berarti itu tanggal 17 ya kalau nggak salah. Jadi saat itu saya lagi delay gitu ya di dalam pesawat Wings Air, karena sebelumnya kan adik saya pramugari Wings Air. Jadi saat itu dia video call saya, itu sore tepatnya,” ujar Natasya saat ditemui di rumah duka Grand Heaven Pluit, Jakarta Utara, Kamis (22/1/2026).

Dalam percakapan video call tersebut, Olen sempat menanyakan keberadaan Natasya. Ketika mengetahui sang kakak berada di dalam pesawat Wings Air, maskapai tempat Olen pernah bekerja, ia kemudian meminta Natasya untuk menyerahkan ponselnya kepada kru pesawat yang merupakan rekan-rekannya.

“Dia tanya ‘krunya siapa?’ ‘Ya kakak nggak kenal’. Akhirnya ‘boleh nggak aku ngomong sama crew-nya?’ Akhirnya aku ke belakang, aku kasih lihat temen-temennya dan akhirnya dia ngobrol, dan itu terakhir,” kenang Natasya dengan nada sedih.

Kabar Hilang Kontak dan Perjuangan Keluarga

Keesokan harinya, Natasya menerima kabar mengejutkan dari calon suami Olen bahwa pesawat yang ditumpangi adiknya hilang kontak. Saat itu, Natasya berada di Sibolga dan segera mencari cara untuk bisa tiba di Makassar secepatnya.

“Lalu keesokannya tiba-tiba aku dapat kabar dari calonnya adikku gitu, pesawat adikku udah kurang lebih satu jam hilang. Itu kondisinya masih di Sibolga. Lalu aku karena kenal beberapa teman yang memang bekerja di DKUPPU juga teman-teman pilot, akhirnya aku menanyakan kebenaran tersebut dan ternyata bener,” tuturnya.

Natasya kemudian menceritakan perjuangan panjangnya untuk mencapai Makassar. Dari Sibolga, ia menempuh perjalanan darat menuju Medan yang memakan waktu tujuh jam. Setibanya di Medan, ia melanjutkan penerbangan ke Jakarta, sebelum akhirnya terbang ke Makassar bersama anggota keluarga lainnya.

Advertisement

Doa Bersama dan Penyerahan Diri

Selama berada di Makassar, keluarga terus menjalin komunikasi dengan kepolisian setempat terkait perkembangan proses pencarian. Mereka juga sempat mengadakan doa bersama untuk Olen.

“Jadi kami memutuskan untuk doa sama-sama, papa, mama, calon suami, kami sebagai kakak, kita berdoa bersama-sama nyatain ketakutan kami, nyatain keraguan kami, nyatain semua yang kami rasakan itu sama Tuhan,” ujar Felix Agoes, kakak ipar Olen, pada kesempatan yang sama.

Felix menambahkan, “Pada akhirnya berdoanya penginnya Olen pulang utuh sehat-sehat, tapi biarlah kehendak Tuhan yang jadi. Ketika momen itu selesai, menghadirkan kelegaan di hati kami gitu ya karena kayak hatinya udah clear gitu bahwa apa yang Tuhan izinkan, apa yang Tuhan kasih itu yang terbaik buat kami, sehingga di momen itu jadi kami menjadi pribadi yang lebih kuat ketika kami berserah sama Tuhan.”

Identifikasi Jenazah dan Rencana Pemakaman

Setelah melalui proses evakuasi yang memakan waktu, pihak kepolisian akhirnya berhasil mengidentifikasi salah satu jenazah sebagai Olen. Jenazah tersebut kemudian diserahkan kepada pihak keluarga di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.

Selanjutnya, jenazah Olen dibawa ke Rumah Duka Grand Heaven Pluit, Jakarta Utara, sebelum diterbangkan ke Manado untuk dimakamkan pada Sabtu, 26 Januari 2026.

Advertisement