JAKARTA, 11 Januari 2026 – Rencana pembangunan kembali Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Sarinah di Jakarta Pusat menuai beragam harapan dari masyarakat. Selama ini, warga mengandalkan pelican crossing untuk menyeberang di kawasan yang ramai aktivitas tersebut.
Harapan Warga untuk JPO Sarinah
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memastikan bahwa pelican crossing tidak akan ditutup setelah JPO Sarinah selesai dibangun. “Jalan kaki di bawah kan tetap dibuka, kemudian di atas sebagai alternatif pilihan,” ujar Pramono, merespons kekhawatiran adanya penutupan fasilitas penyeberangan yang sudah ada.
Pramono menambahkan bahwa keputusan pembangunan kembali JPO Sarinah telah diambil sejak lama, dan sebagai Gubernur, ia bertanggung jawab penuh atas keputusan tersebut. JPO Sarinah sendiri dibongkar pada era Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, padahal JPO ini merupakan JPO pertama di Indonesia yang dibangun pada masa Gubernur Ali Sadikin.
JPO Sebagai Ikon Kota dan Alternatif Aman
Ahmad Fauzi (35), seorang pekerja di sekitar Sarinah, menyatakan dukungannya terhadap rencana revitalisasi JPO. Ia menilai kawasan Sarinah yang merupakan pusat perkantoran sekaligus destinasi wisata membutuhkan fasilitas penyeberangan yang memadai. “Saya sih mendukung. Di sini kan istilahnya kawasan wisata iya, perkantoran juga, jadi banyak pejalan kaki,” kata Ahmad.
Menurutnya, JPO masih relevan di tengah kepadatan lalu lintas dan dapat memberikan nilai tambah jika dibangun dengan konsep modern. “Apalagi JPO bisa jadi ikon kota juga kalau desainnya bagus, misalnya kayak di kawasan HI atau Sudirman,” tambahnya.
Senada dengan Ahmad, Amir (57), pekerja lain di kawasan Sarinah, mengaku sering merasa waswas saat menyeberang jalan meskipun sudah ada pelican crossing. “Di sini lalu lintasnya padat, kendaraan cepat-cepat semua. Kalau ada JPO, pejalan kaki jadi lebih aman dan lebih tenang nyeberang,” ucap Amir.
Fasilitas Inklusif dan Pengawasan Ketat
Amir juga berharap JPO Sarinah dilengkapi fasilitas penunjang yang memadai, terutama untuk kelompok disabilitas. “Kalau memang dibuat ramah disabilitas, ya bagus sekali. Harus ada lift atau eskalator, jadi semua orang bisa pakai,” ujarnya.
Namun, Amir mengingatkan pentingnya aspek perawatan dan pengawasan pasca-pembangunan. “Jangan sampai nanti liftnya mati atau malah jadi tempat orang buka lapak dan tunawisma. Harus dijaga, apalagi ini kan pusat kota,” tegasnya.
Adita (30), warga lainnya, menekankan agar konsep ‘ramah disabilitas’ benar-benar diwujudkan. “Kalau untuk disabilitas, saya setuju, tapi semoga fasilitasnya benar-benar berfungsi. Jangan sampai lift rusak tapi lama diperbaikinya,” kata Adita.
Ia juga berharap pengelolaan JPO dilakukan secara profesional agar tidak terkesan kumuh dan tetap aman bagi pejalan kaki.
Nilai Historis dan Integrasi Transportasi
Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), Welfizon Yuza, menegaskan bahwa JPO Sarinah memiliki nilai historis sebagai JPO pertama di Indonesia. “Revitalisasi JPO Sarinah merupakan langkah nyata Pemprov DKI dalam menghadirkan pilihan aksesibilitas yang inklusif. JPO Sarinah ini adalah JPO pertama di Indonesia,” kata Welfizon dalam keterangan resminya, Sabtu (10/1/2026).
Fokus utama revitalisasi adalah memastikan akses penyeberangan yang aman dan nyaman bagi kelompok disabilitas, lansia, dan ibu hamil di kawasan Sarinah yang padat aktivitas. Oleh karena itu, JPO Sarinah akan dilengkapi dengan lift.
Welfizon juga mengklarifikasi bahwa pembangunan JPO Sarinah tidak akan menghilangkan fasilitas yang sudah ada. Pelican crossing di kawasan tersebut akan tetap beroperasi normal. “Pembangunan ini tidak menghilangkan fasilitas yang ada. Pelican crossing tetap berfungsi seperti biasa. JPO Sarinah akan menjadi opsi tambahan yang terintegrasi dengan moda transportasi publik,” ujarnya.
Transjakarta berharap revitalisasi JPO Sarinah tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyeberangan, tetapi juga kembali menjadi bagian dari identitas kota Jakarta dan mendukung mobilitas pejalan kaki yang lebih aman serta inklusif di pusat ibu kota.






