Berita

Waskita Karya dan Danantara Serahkan 600 Huntara untuk Korban Bencana Aceh Tamiang

Advertisement

JAKARTA – PT Waskita Karya (Persero) Tbk bersama Danantara secara resmi menyerahkan 600 unit Hunian Sementara (Huntara) kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Pembangunan hunian darurat ini telah rampung sesuai target yang ditetapkan.

Acara serah terima ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Managing Director Hubungan Antarlembaga BPI Danantara Rohan Hafas, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi, Direktur Utama Waskita Karya Muhammad Hanugroho, dan Direktur Operasi I Waskita Karya Ari Asmoko.

Rohan Hafas menyatakan bahwa penyerahan huntara ini merupakan wujud komitmen Danantara Indonesia dalam menyediakan hunian sementara yang layak dan aman bagi warga terdampak bencana. Ia menekankan pentingnya hunian ini untuk mendukung pemulihan layanan dasar. “Pemulihan tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi bergerak pada bagaimana hunian benar-benar memberi ruang bagi keluarga untuk kembali menjalani kehidupan sehari-hari,” ujar Rohan dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/1/2026).

Sinergi antara Danantara dan BUMN Karya ini mendapat apresiasi positif dari pemerintah. Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya menilai kolaborasi tersebut sebagai contoh yang sangat baik dan berpotensi menginspirasi wilayah lain yang menghadapi situasi serupa. Sementara itu, Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi menyampaikan rasa terima kasih atas kecepatan pembangunan yang dilakukan. Ia menyebutkan bahwa beberapa hunian tersebut merupakan yang pertama diterima sejak bencana melanda. “Kami akan distribusikan bertahap mulai 100 unit agar adaptasi berjalan mulus,” kata Armia.

Ratusan keluarga dari Desa Sukajadi telah disiapkan untuk menempati hunian yang telah selesai dibangun pada tahap pertama. Daftar nama calon penghuni telah ditempelkan di pintu setiap unit Huntara.

Direktur Utama Waskita Karya, Muhammad Hanugroho, menjelaskan bahwa pembangunan Huntara di Aceh Tamiang adalah bukti kolaborasi antara Danantara, pemerintah, dan BUMN Karya dalam upaya pemulihan pasca-bencana. Pengerjaan hunian ini dilakukan secara intensif untuk mempercepat penyelesaian. “Pembangunan Huntara terus dilakukan selama 24 jam tanpa kenal lelah demi memulihkan kembali daerah Aceh. Dalam waktu enam hari Waskita berhasil menyelesaikan puluhan rumah hunian, ini membuktikan upaya gerak cepat Waskita Karya sebagai garda terdepan dalam membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana,” ungkapnya.

Advertisement

Selain unit hunian berukuran 4,5×4,5 meter, Waskita Karya juga membangun fasilitas pendukung seperti unit Mandi Cuci Kakus (MCK), Sistem Pengolahan Air Limbah (STP), musholla berukuran 9×13,5 meter beserta tempat wudu seluas 6,6×13 meter, dan dapur umum seluas 8×19 meter. Kawasan ini juga dilengkapi dengan bangunan tandon air, drainase precast, serta sistem Mekanikal, Elektrikal, dan Plumbing (MEP).

Hanugroho menambahkan bahwa meskipun bersifat sementara, Huntara dibangun dengan memperhatikan standar kelayakan dan kualitas. “Meski ini hunian sementara, namun Waskita tetap memperhatikan standar kelayakan dan kualitas bangunan. Huntara dibangun untuk memenuhi kebutuhan hunian darurat yang aman, dengan struktur yang disiapkan kokoh serta utilitas dasar yang dirancang berfungsi saat ditempati. Harapan kami warga yang tinggal di sana merasa nyaman dan dapat mulai menjalani aktivitas sehari-hari,” tuturnya.

Waskita Karya juga berkontribusi dalam pembangunan jalan pedestrian dan jalan akses di kawasan Huntara untuk memastikan kelancaran konektivitas dan distribusi logistik. “Waskita Karya terus berkomitmen mengawal pemulihan kawasan terdampak bencana, khususnya Aceh Tamiang. Komunikasi sekaligus koordinasi dengan pemerintah pusat, daerah, serta seluruh stakeholder, juga diperkuat guna membangkitkan wilayah tersebut,” jelasnya.

Saat ini, Waskita Karya juga tengah mengerjakan pembangunan Huntara di Aceh Utara, yang mencakup wilayah Simpang Tiga, Tanjong Dalam Selatan, dan Leubok Meuku. Sebanyak 314 rumah hunian direncanakan dibangun di sana untuk menyediakan tempat tinggal layak bagi masyarakat selama masa darurat pasca-bencana.

“Kami terus berdoa agar seluruh warga yang terkena bencana bisa segera pulih dan menata hidupnya kembali. Duka ini bukan hanya milik Aceh atau Sumatra, tapi dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia,” tutup Hanugroho.

Advertisement