TANGERANG SELATAN – Kebakaran hebat melanda gudang PT Biotek Saranatama di Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, pada Senin (9/2/2026), menyebabkan sekitar 20 ton pestisida terbakar dan mencemari Sungai Jeletreng, anak Sungai Cisadane. Insiden ini masih dalam penyelidikan mendalam oleh pihak kepolisian dan pemerintah daerah.
Dampak Pencemaran Meluas
Api yang berasal dari bahan kimia berbahaya tersebut berhasil dipadamkan setelah petugas berjuang selama 7 jam, bahkan membutuhkan dua truk pasir. Namun, dampak kebakaran tidak hanya kerugian materiil, melainkan juga pencemaran air yang signifikan. Banyak ikan di Sungai Cisadane dilaporkan mati, dan air sungai berubah warna menjadi putih pekat akibat tercampur residu kimia pestisida.
Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) bergerak cepat memantau dampak pencemaran. Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, memastikan pasokan air bersih bagi warga tetap aman melalui koordinasi dengan pengelola air bersih. “Pemerintah Kota telah berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk pengelola air bersih, untuk memastikan keamanan distribusi,” kata Benyamin kepada wartawan, Rabu (11/2).
Sebagai langkah antisipasi, dilakukan pengalihan teknis pada titik pengambilan air (intake) yang berdekatan dengan area terdampak. “Sebagai langkah antisipasi, terdapat pengalihan atau penyesuaian teknis di titik pengambilan air (intake) yang sekiranya berdekatan dengan area terdampak guna memastikan air yang sampai ke warga tetap memenuhi standar baku mutu kesehatan,” jelasnya.
Pemkot Tangsel juga menyiapkan tanki air untuk disalurkan secara gratis kepada warga yang terdampak langsung. Benyamin mengimbau warga di sekitar lokasi untuk memantau kondisi sumur mereka dan segera melapor jika ada perubahan warna atau bau air.
Penyelidikan Polisi dan Imbauan Kesehatan
Polres Tangerang Selatan telah menerbitkan laporan polisi model A untuk menyelidiki dugaan tindak pidana dalam kasus kebakaran ini. Lima saksi, termasuk manajer, karyawan, dan petugas keamanan pabrik, telah diperiksa. Kasatreskrim Polres Tangsel, AKP Wira Graha Setiawan, menyatakan polisi masih mendalami penyebab kebakaran dan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel untuk menganalisis sampel bahan kimia.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, memperingatkan warga untuk tidak mengonsumsi ikan dari Sungai Cisadane yang tercemar. Ia menjelaskan risiko jangka panjang paparan zat kimia pestisida dapat menimbulkan kanker. “Kalau risiko jangka panjang zat kimia ini salah satunya menimbulkan kanker. Kalau masuk ke lambung, jadi kanker usus,” ujar Hendra dilansir Antara, Rabu (11/2).
Masyarakat di sekitar bantaran Cisadane diimbau untuk sementara tidak mengonsumsi ikan sungai hingga ada hasil pemeriksaan laboratorium yang menyatakan aman.
Pemeriksaan Laboratorium dan Penegakan Hukum
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mengonfirmasi sekitar 20 ton pestisida jenis cypermetrin dan profenofos terbakar. Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq menyatakan pencemaran telah meluas sekitar 22,5 kilometer, menyebabkan kematian biota akuatik.
“Kurang lebih 20 ton pestisida terbakar, dan air sisa pemadaman yang bercampur residu kimia mengalir hingga mencemari sungai. Kondisi ini sangat berdampak serius terhadap ekosistem perairan dan masyarakat di sekitarnya,” ujar Menteri Hanif dalam keterangan tertulis, Rabu (11/2).
KLH mengambil sampel air di berbagai titik Sungai Cisadane dan sepuluh sampel ikan mati untuk diuji di laboratorium. Pemeriksaan lanjutan akan melibatkan ahli toksikologi. “Pemerintah akan memastikan proses penegakan hukum berjalan secara transparan dan akuntabel, termasuk evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) yang diterapkan oleh perusahaan,” imbuhnya.






