JAKARTA, 20 Januari 2026 – Kementerian Sosial Republik Indonesia meningkatkan upaya penanganan darurat bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Langkah ini diambil mengingat potensi hujan yang masih tinggi dan ancaman banjir susulan.
Koordinasi Intensif Penanganan Darurat
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, telah menjalin koordinasi erat dengan pemerintah daerah setempat. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa penanganan darurat, khususnya pemenuhan kebutuhan dasar bagi warga yang terdampak bencana, berjalan secara optimal. “Kementerian Sosial terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan unsur terkait untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal, terutama pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak bencana,” ujar Gus Ipul dalam keterangan tertulisnya pada Selasa (20/1/2026).
Bencana ini mulai terjadi sejak Jumat, 9 Januari 2026, pukul 20.00 WIB, dipicu oleh curah hujan yang sangat tinggi. Data sementara menunjukkan bahwa lima desa di Kecamatan Juwana, Pati, terdampak langsung: Desa Doropayung, Bumirejo, Tluwah, Kudukeras, dan Kedungpancing. Bencana tersebut telah memengaruhi sekitar 8.000 kepala keluarga (KK) atau setara dengan 20.000 jiwa. Dari jumlah tersebut, 300 KK atau 900 jiwa terpaksa mengungsi di berbagai lokasi seperti balai desa, balai kemasyarakatan, serta rumah kerabat dan keluarga.
Hingga kini, belum ada laporan mengenai korban jiwa atau korban luka akibat bencana ini.
Operasi Dapur Umum dan Bantuan Logistik
Untuk memenuhi kebutuhan pangan para pengungsi, Kementerian Sosial, melalui Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah dan personel Tagana, telah mengoperasikan dapur umum lapangan. Dapur umum ini berlokasi di Kantor Dinas Sosial Kabupaten Pati dan Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus. Masing-masing dapur umum mampu memproduksi 3.600 bungkus makanan per hari untuk tiga kali makan, yang telah beroperasi sejak 19 Januari 2026. Selain itu, dapur umum mandiri yang dikelola oleh masyarakat dan lembaga terkait, dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Pati, juga turut beroperasi di beberapa titik terdampak.
Secara keseluruhan, bencana ini melanda 20 kecamatan di Kabupaten Pati. Kerusakan material dilaporkan cukup signifikan, meliputi 3.700 rumah terendam, 7.000 rumah terdampak dengan tingkat kerusakan bervariasi (berat, sedang, ringan), serta kerusakan pada fasilitas umum, pendidikan, tempat ibadah, infrastruktur tanggul dan jalan. Sekitar 1.300 hektare lahan sawah juga turut terdampak.
Pemerintah Kabupaten Pati telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana melalui Surat Keputusan Bupati Pati Nomor 400.9.10.2/0041 Tahun 2026. Status ini berlaku selama 14 hari, terhitung sejak 10 hingga 23 Januari 2026.
Kementerian Sosial telah menyalurkan bantuan logistik tahap I dan II melalui gudang Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah dan Sentra Margo Laras Pati. Bantuan tersebut mencakup makanan siap saji, makanan anak, kasur, selimut, tenda, perlengkapan keluarga, serta pakaian anak dan dewasa.
Antisipasi Banjir Susulan dan Upaya Pemulihan
Gus Ipul menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan seluruh unsur terkait dalam menghadapi situasi ini. “Kami terus memantau perkembangan di lapangan dan mengantisipasi kemungkinan banjir susulan sesuai informasi BMKG. Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan unsur terkait menjadi kunci agar penanganan berjalan cepat dan tepat,” tegasnya.
Meskipun sebagian wilayah terdampak mulai menunjukkan penurunan ketinggian air, wilayah hilir dan pesisir seperti Kecamatan Juwana, Dukuhseti, dan Gabus masih tergenang. Pemerintah bersama unsur terkait terus berupaya melakukan pembersihan wilayah, normalisasi sungai, serta rehabilitasi tanggul untuk mempercepat proses pemulihan kondisi masyarakat.






