Berita

Eddy Soeparno: Ketahanan Energi Jadi Landasan Penting dalam Transisi Energi Nasional

Advertisement

Wakil Ketua MPR dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, menekankan pentingnya ketahanan energi sebagai fondasi utama dalam penyediaan kebutuhan energi, termasuk dalam program transisi energi di Indonesia. Peningkatan kebutuhan energi dan ketergantungan pada impor saat ini menjadikan ketahanan energi sebagai elemen krusial bagi ketahanan nasional.

Diskusi Energi Bimasena

Penegasan ini disampaikan Eddy saat menghadiri Diskusi Terbatas Tim Energi Bimasena bersama Wakil Ketua MPR RI di The Bimasena, Jakarta, pada Kamis (5/2) lalu. Forum yang dihadiri para pimpinan dan analis energi The Bimasena itu dinilai Eddy sangat strategis untuk menghimpun masukan dan kritik demi penyusunan kebijakan energi nasional yang lebih komprehensif.

“Saya percaya apa yang kita bahas di sini harus didasarkan pada transparansi dan keterusterangan, agar kita bisa memperkaya wawasan sekaligus mendukung berbagai program di bidang energi yang saat ini menjadi prioritas nasional,” ujar Eddy dalam keterangannya, Jumat (6/2/2026).

Dinamika Transisi Energi Global

Doktor Ilmu Politik UI ini memaparkan bahwa secara global, batu bara masih menjadi sumber energi dominan meskipun kontribusinya menurun menjadi sekitar 35 persen, terendah dalam 50 tahun terakhir. Gas bumi menyusul dengan porsi sekitar 20 persen dalam bauran energi dunia.

Menurut Eddy, transisi energi global saat ini berlangsung tidak teratur. Di satu sisi, penggunaan energi fosil masih meningkat, namun di sisi lain pengembangan energi terbarukan, khususnya tenaga surya dan angin, juga tumbuh pesat. “Kita perlu melihat apakah yang terjadi sekarang benar-benar transisi energi atau hanya penambahan alternatif energi baru,” katanya.

Dinamika geopolitik juga turut memengaruhi kebijakan energi dunia. Banyak negara kini lebih memprioritaskan kebutuhan energi domestik dibandingkan kerja sama multilateral, menjadikan isu ketahanan energi sebagai tema global.

Investasi dan Tantangan Energi Indonesia

Eddy Soeparno memaparkan bahwa kebutuhan investasi transisi energi Indonesia hingga 2040 diperkirakan mencapai 263 miliar dollar AS, dengan sekitar 190 miliar dollar AS dibutuhkan hingga 2034. Besarnya kebutuhan investasi ini menjadi tantangan mengingat persaingan global dalam pengembangan energi terbarukan, mulai dari teknologi, bahan baku, sumber daya manusia, hingga pendanaan.

Advertisement

Ia menekankan pentingnya pengembangan energi terbarukan yang juga mendorong industrialisasi dalam negeri, seperti industri panel surya, kabel, dan turbin. Hal ini diharapkan dapat memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.

Kepastian Regulasi dan Legislasi Energi

Lebih lanjut, Eddy menyoroti pentingnya kepastian regulasi dan konsistensi kebijakan untuk menarik investasi di sektor energi, termasuk migas. Fragmentasi perizinan dan lemahnya koordinasi antar lembaga seringkali menjadi hambatan dalam mempercepat eksplorasi sumber-sumber migas.

Pemerintah dan DPR saat ini tengah menyiapkan sejumlah legislasi untuk mendukung pengembangan energi, di antaranya revisi Undang-Undang Migas, penyelesaian RUU Energi Baru dan Terbarukan, revisi Undang-Undang Ketenagalistrikan, serta penyusunan Undang-Undang Pengelolaan Perubahan Iklim.

Di akhir paparannya, Eddy menegaskan bahwa transisi energi di Indonesia harus disesuaikan dengan kondisi nasional, baik dari sisi kemampuan pembiayaan, kebutuhan masyarakat, maupun pemerataan akses listrik. “Apapun yang kita lakukan dalam proses transisi energi, kita harus selalu menyeimbangkan antara biaya dan dampak iklim, serta memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga,” tutupnya.

Simak juga Video ‘Prabowo Lantik 8 Dewan Energi Nasional, Ini Daftar Namanya’:

[Gambas:Video 20detik]

Advertisement