Berita

KemenPPPA Beri Pendampingan Psikologis Keluarga Siswa SD yang Bunuh Diri di NTT

Advertisement

Informasi mengenai bunuh diri dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi tindakan serupa. Jika Anda mengalami gejala depresi atau pemikiran bunuh diri, segera konsultasikan dengan profesional kesehatan mental.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyatakan kasus bunuh diri yang dilakukan pelajar kelas IV SD berinisial YBR (10) di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap anak belum sepenuhnya terpenuhi.

Arifah menjelaskan bahwa peristiwa tragis ini dipicu oleh banyak faktor pendukung, bukan hanya satu penyebab tunggal. “Bagi kami dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, ini mengingatkan kita semua bahwa perlindungan terhadap anak belum sepenuhnya bisa kita penuhi karena terjadinya peristiwa ini. Namun, peristiwa ini bukan merupakan satu faktor penyebab saja. Saya kira ini banyak faktor-faktor pendukung di belakangnya sehingga kenapa anak ini melakukan hal-hal yang menurut kami ini di luar apa ya, di luar dugaan,” ujar Arifah kepada wartawan pada Kamis (5/2/2026).

Berdasarkan koordinasi dengan Dinas Provinsi dan Kabupaten, terungkap bahwa orang tua YBR berpisah saat YBR masih dalam kandungan. Ibunya telah menikah tiga kali. YBR memiliki empat saudara; dua di antaranya sudah dewasa dan bekerja, sementara dua lainnya, berusia 17 dan 14 tahun, tidak melanjutkan sekolah setelah lulus SD.

“Jadi punya empat saudara. Yang dua sudah dewasa, sudah bekerja, kemudian yang dua itu 17 tahun, itu juga tidak melanjutkan sekolah, hanya lulus SD. Kemudian yang kedua kakaknya umur 14 tahun perempuan juga tidak melanjutkan sekolah, hanya sampai tingkat SD,” ungkap Arifah.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabupaten Ngada telah memberikan pendampingan psikologis kepada ibu dan nenek YBR untuk mengantisipasi trauma. Namun, karena keterbatasan psikolog klinis di daerah tersebut, rujukan ke kabupaten/kota terdekat atau mendatangkan psikolog menjadi alternatif.

Advertisement

“Kemudian dari Dinas PPPA Kabupaten juga sudah berkunjung ke lokasi dan mencoba melakukan pendampingan dengan apa ya, pendekatan secara psikologis. Khawatir ada dampak atau trauma yang dialami oleh ibu, kemudian nenek, dan juga dua saudaranya,” jelas Arifah.

Arifah menambahkan bahwa keluarga YBR termasuk dalam kategori keluarga tidak mampu. Kejadian ini menjadi introspeksi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memberikan layanan terbaik bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Kemudian kalau kita lihat secara keseluruhan keluarga ini adalah keluarga yang bisa dikatakan keluarga tidak mampu, sehingga ini menjadi perhatian kita bersama bagaimana dari seluruh stakeholder yang ada, ini mari bersama-sama untuk memberikan layanan-layanan terbaik bagi masyarakat yang membutuhkan dan seharusnya memang mendapatkan sapaan dan layanan dari kita selaku pemerintah,” tuturnya.

Sebelumnya, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi jasad YBR. Surat berbahasa daerah Bajawa itu berisi ungkapan kekecewaan YBR terhadap ibunya yang disebutnya pelit, serta berisi pesan perpisahan.

Advertisement