Berita

Kisah Tika Wulandari: Dari Pesisir Hingga Raih Mimpi Lewat Pemberdayaan PNM

Advertisement

Tika Wulandari, perempuan yang tumbuh di tengah kesederhanaan keluarga nelayan di pesisir, kini menjadi bukti nyata bagaimana perjuangan dan kesempatan dapat mengubah nasib. Ayahnya seorang nelayan yang tak pasti hasil tangkapannya, sementara ibunya, Siti Wartika, membesarkannya dengan penuh kesabaran dan keyakinan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk bersyukur.

Sejak kecil, Tika terbiasa hidup prihatin. Namun, orang tuanya senantiasa mengajarkan pentingnya mensyukuri nikmat keluarga yang sehat dan tempat tinggal, sekecil apa pun itu. Sepulang sekolah, mulai dari kelas 4 SD hingga lulus SMP, Tika tak segan membantu tetangga mengolah pindang ikan demi menambah uang saku dan biaya makan. Pendidikan agama menjadi prioritas utama orang tuanya, terbukti Tika tetap disekolahkan di SMK pesantren hingga lulus.

Ujian berat datang saat Tika duduk di bangku SMK kelas XI. Angin laut yang kencang membuat ayahnya melaut berhari-hari tanpa hasil. Kondisi beras yang menipis dan tangis sang ibu tak mematahkan semangat. “Tidak apa-apa, yang penting Bapak selamat,” ujar Siti Wartika kala itu, Selasa (27/10/2026). Momen inilah yang menjadi titik balik tekad Tika untuk membantu keluarganya.

Setelah lulus SMK, Tika memilih tidak melanjutkan kuliah demi meringankan beban orang tua dan adiknya. Ia mencari pekerjaan halal apa pun hingga akhirnya pada tahun 2019, ia diterima sebagai Account Officer (AO) Mekaar Panarukan di PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Pekerjaan sebagai AO ia pandang sebagai tugas mulia, melihat setiap nasabah sebagai perempuan tangguh yang berjuang demi keluarga.

Meskipun sempat mendapat kekhawatiran dari ayahnya karena harus bekerja di lapangan, doa orang tua mengantarkannya pada kesempatan baru. Tika kemudian mengikuti seleksi dan lolos menjadi FAO Bungatan, bekerja di kantor, sesuai harapan ayahnya. Dari gaji pertamanya, Tika mampu membeli kendaraan pribadi. Perlahan, ia bisa menabung setiap bulan yang diberikan kepada ibunya, hingga akhirnya keluarganya mampu membeli sapi. Puncaknya, pada Desember 2022, tabungan tersebut digunakan keluarga untuk membeli sebuah perahu.

Advertisement

Sejak saat itu, ayah Tika tak lagi bergantung pada kapal orang lain. Perahu tersebut kini mampu menghidupi hingga 20 hingga 25 pekerja nelayan. “Semakin saya memberi, semakin banyak rezeki yang Allah titipkan kembali,” ujar Tika penuh syukur.

Tak berhenti di sana, sejak 2022, Tika juga mendapatkan beasiswa pendidikan dari PNM. Di tengah kesibukannya bekerja, ia mendapat kesempatan kuliah S1 secara gratis, sebuah mimpi yang tak pernah terbayang sebelumnya.

Komitmen PNM dalam Pemberdayaan

Sekretaris Perusahaan PNM, L. Dodot Patria Ary, menegaskan bahwa kisah Tika mencerminkan komitmen PNM dalam memaknai pemberdayaan secara menyeluruh. “PNM percaya bahwa pemberdayaan tidak hanya ditujukan kepada nasabah, tetapi juga kepada karyawan. Kami ingin memastikan setiap Insan PNM memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, meningkatkan kesejahteraan, dan membawa dampak positif bagi keluarga serta lingkungannya. Kisah Tika adalah bukti bahwa ketika kesempatan diberikan, dampaknya bisa berlipat ganda,” ujar Dodot.

Bagi PNM, perjalanan Tika Wulandari bukan sekadar kisah sukses individu, melainkan cerminan bagaimana pemberdayaan yang konsisten dapat mengubah nasib satu keluarga, bahkan membuka harapan bagi banyak orang di sekitarnya.

Advertisement