Jakarta – Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) memberikan apresiasi terhadap kinerja Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sepanjang tahun 2025 di bawah kepemimpinan Profesor Doktor Arif Satria. Apresiasi ini juga mencakup rencana kerja strategis BRIN untuk tahun 2026. Pemberian apresiasi ini diharapkan dapat menjadi dorongan agar riset dan inovasi yang dihasilkan BRIN semakin memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
Peran BRIN dalam Penanganan Bencana
Salah satu bentuk kontribusi BRIN yang disorot adalah keterlibatannya dalam penanganan bencana di wilayah Sumatera dan Aceh melalui pembentukan Task Force Tim Cepat Tanggap Bencana. Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudin, menegaskan bahwa kinerja BRIN telah memberikan semangat dan energi baru bagi Komisi X.
“Kami melihat pemanfaatan riset sangat penting. Termasuk riset atau inovasi yang dihasilkan masyarakat, untuk kemudian mendekatkan bahwa riset dan inovasi bukan hal yang jauh dari persoalan yang perlu solusi cepat yang dibutuhkan masyarakat sehari-hari,” ujar Hetifah dalam keterangan tertulisnya, Rabu (28/1/2026).
Memperkuat Ekosistem Riset dan Inovasi
Apresiasi dari Komisi X sejalan dengan upaya BRIN untuk terus memperkuat ekosistem riset dan inovasi di Indonesia. Hal ini diwujudkan melalui berbagai program strategis, salah satunya adalah pembentukan Rumah Inovasi Indonesia yang berfungsi sebagai wadah kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Selain itu, hadir pula Rumah Inovasi Daerah yang bertujuan mendorong pemanfaatan hasil riset sesuai dengan potensi masing-masing wilayah. Inisiatif ini memastikan bahwa inovasi tidak hanya berhenti di ranah laboratorium, melainkan dapat diaplikasikan secara nyata di tengah masyarakat.
BRIN juga telah melaksanakan Agenda Riset dan Inovasi Nasional yang berfungsi sebagai pedoman bersama dalam perencanaan dan pelaksanaan riset. Langkah ini dirancang untuk memperkuat sinergi antara BRIN dengan berbagai kementerian, lembaga, perguruan tinggi, industri, hingga pemerintah daerah. Upaya kolaboratif ini semakin diperluas melalui program BRIN Goes to Stakeholders, yang meliputi BRIN Goes to Campus, BRIN Goes to School, dan BRIN Goes to Industry. Melalui berbagai program ini, BRIN berupaya memperluas jejaring, meningkatkan literasi sains dan teknologi, serta mendorong pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai sektor.
Meskipun demikian, BRIN juga terus melakukan evaluasi menyeluruh sebagai dasar perbaikan kebijakan dan penguatan kelembagaan di masa mendatang. Tujuannya agar BRIN dapat beroperasi lebih terarah, adaptif, inklusif, serta memberikan dampak nyata pada pembangunan nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Penguatan Penanganan Bencana dan Kolaborasi Riset
Hetifah Sjaifudin kembali menekankan pentingnya penguatan peran BRIN dalam penanganan bencana. “Saya juga melihat keterlibatan BRIN melalui Task Force Tim Cepat Tanggap perlu diperkuat lagi. Ini masih panjang, Bu Esti mengunjungi beberapa daerah bencana, menunjukkan masih perlu solusi inovatif untuk percepatannya. Jadi kami masih mengandalkan BRIN untuk itu,” katanya.
Di sisi lain, Anggota Fraksi Demokrat Komisi X, Sabam Sinaga, menilai riset dan inovasi sebagai sebuah tantangan besar. Ia menyambut baik kehadiran Profesor Doktor Arif Satria dan berharap BRIN dapat bertransformasi menjadi inkubator riset dan inovasi baru yang signifikan. Sabam mengapresiasi kolaborasi BRIN dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dalam menyusun Peta Jalan Riset yang akan digunakan bersama.
Peta Jalan Riset ini diharapkan dapat mencegah tumpang tindih dalam pelaksanaan riset yang didanai oleh anggaran negara, yang berbasis pada delapan agenda riset nasional. “Ini terkait dengan pembiayaan. Kalau ada overlapping pembiayaan, ini bukan hal yang tepat. Maka sudah benar ada rencana kemitraan dengan Kemdiktisaintek sehingga tidak ada overlapping penelitian. Sehingga pembiayaan Rp1 uang rakyat yang kita distribusikan untuk penelitian, benar-benar efektif,” jelas Sabam.
Tanggapan Kepala BRIN
Menanggapi berbagai pandangan, masukan, dan kritik dari Pimpinan dan Anggota Komisi X dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP), Kepala BRIN, Profesor Doktor Arif Satria, menyampaikan apresiasinya. Ia menilai seluruh masukan yang diberikan sangat konstruktif dan menunjukkan adanya kesamaan visi.
“Karena kami merasa punya frekuensi yang sama. Bahwa iptek, teknologi, dan inovasi harus memiliki dampak dan kesejahteraan kepada masyarakat. Sehingga Indonesia Emas tidak hanya aspek ekonomi, tapi ekologi dan sosial bisa terjaga dengan baik,” kata Arif.
Lebih lanjut, Arif Satria melaporkan bahwa Task Force Tim Cepat Tanggap pada hari itu juga telah menggelar rapat terkait penanganan longsor di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. BRIN akan mengirimkan teknologi berupa drone dan Arsinum, sebagaimana telah diterapkan sebelumnya di lokasi bencana di Sumatera dan Aceh.
“Terkait bencana 2026 kami menyiapkan early warning system untuk erosi dan banjir. Nanti akan ada pemetaan nasional daerah yang rawan, lalu di beberapa titik dipasang alat untuk nantinya bisa dilakukan antisipasi,” jelasnya.






