Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengutarakan keinginannya untuk meningkatkan frekuensi operasi tangkap tangan (OTT) menjadi lebih dari sekali dalam sebulan. Namun, Ketua KPK, Setyo Budiyanto, menegaskan bahwa pelaksanaan OTT tetap didasarkan pada informasi yang valid dan bukan sekadar target yang dipaksakan.
Target OTT dan Kendala yang Dihadapi
Dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR RI pada Rabu (28/1/2026), Setyo Budiyanto memaparkan bahwa KPK sebenarnya berupaya melakukan setidaknya satu OTT setiap bulannya. “Sebenarnya hampir beberapa bulan sekali pasti ada (OTT). Gitu. Karena itu juga salah satu target kami, tapi sekali bukan target yang dipaksakan. Targetnya adalah sesuai dengan informasi yang kami dapatkan,” ujar Setyo.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua KPK, Fitroh Rohcahyanto, menambahkan bahwa kendala yang dihadapi KPK tidak hanya terbatas pada kekurangan sumber daya manusia (SDM). Ia secara spesifik meminta agar lembaga antirasuah tersebut diberikan dukungan berupa alat-alat yang canggih.
“Apa sih sebenarnya hambatan paling besar yang di KPK selain tentang SDM yang kurang, ya berikanlah kami alat yang canggih, supaya OTT tidak hanya 1 sebulan,” pinta Fitroh. Ia menekankan bahwa teknologi yang ada saat ini dinilai kurang memadai dan sudah tidak mutakhir. “Kurang canggih, Pak, kurang canggih. Ini sudah tidak up-to-date. Jadi kalau anggota Komisi III kasih anggaran besar buat beli alat barang kali OTT lebih masif,” tambahnya, menyiratkan harapan agar Komisi III dapat mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk pengadaan teknologi penunjang.






