Berita

Longsor Cisarua: 25 Jasad Ditemukan, Pemerintah Kaji Titik Aman Relokasi Korban

Advertisement

Pencarian korban longsor di Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus dilakukan oleh petugas gabungan. Hingga Minggu (25/1/2026) pukul 17.00 WIB, total 25 jasad korban longsor telah diterima oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat di posko Puskesmas Pasirlangu. Dalam sehari, Tim SAR Gabungan berhasil mengevakuasi 14 jasad.

Mengacu pada data keseluruhan 113 jiwa yang terdampak longsor sejak Sabtu (24/1/2026), 23 orang ditemukan selamat. Saat ini, masih tersisa 65 orang yang belum ditemukan.

Update Korban dan Identifikasi

“Kita sinkronisasi data dengan hasil tim yang ada di lokasi kejadian, sampai jam 17.00 ini kantong jenazah yang dikirim ke posko ada 25 kantong,” kata Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan saat ditemui, Minggu (25/1/2026).

Tim DVI Polda Jawa Barat telah berhasil mengidentifikasi 11 jenazah. Rinciannya, 10 jenazah dalam kondisi utuh dan satu jenazah teridentifikasi dari potongan tubuh. Korban yang teridentifikasi antara lain Suryana (57), Jajang Tarta (35), Dadang Apung (60), Nining (40), Nurhayati (42), Lina Lismayanti (43), A.I. Sumarni (35), Koswara (40), Koswara (26), dan Ayu Yuniarti (31). Sementara M. Kori (30) berhasil diidentifikasi melalui potongan tangan.

“Tim DVI sudah berhasil mengidentifikasi 11 orang. Sisanya kita akan melakukan kegiatan post mortem di pos DVI ini,” ujar Hendra.

Operasi SAR Gabungan dan Teknologi

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa assessment awal telah dilakukan dari titik mahkota hingga lidah longsor. Operasi pencarian dibagi menjadi beberapa sektor.

“Saat ini yang sudah tergabung dalam tim SAR adalah lebih dari 250 personel terlatih, dan untuk tim operasi pendukung ada sekitar 450 personel,” kata Syafii, Minggu (25/1/2026).

Dalam operasi ini, pihaknya mengerahkan berbagai sarana dan prasarana, termasuk 12 unit drone untuk pemantauan udara. Alat berat juga dikerahkan, namun penggunaannya masih terkendala kondisi medan yang berupa longsoran bubur pasir.

“Untuk udara, kita menggunakan 12 drone yang sudah terdata. Begitu juga unsur darat, mulai dari personel hingga alat berat. Namun, alat berat belum dipastikan sepenuhnya bisa digunakan karena kondisi medan yang berupa longsoran bubur pasir, yang masih sangat rawan,” jelas Syafii.

Optimalisasi pencarian korban juga didukung oleh modifikasi cuaca yang bekerja sama dengan BNPB. Selain itu, K9 dari Polri dan TNI dilibatkan untuk membantu proses pencarian.

Dorongan Evakuasi dan Relokasi dari Mendagri

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menekankan pentingnya proses evakuasi korban yang belum ditemukan dilakukan semaksimal mungkin.

“Yang pertama jangka pendek dulu, semaksimal mungkin untuk mencari korban yang hilang, dibantu keluarganya. Yang direlokasi juga sudah dibantu saya lihat, dari gubernur, bupati, dan lain-lain,” kata Tito, Minggu (25/1/2026).

Advertisement

Untuk jangka panjang, Tito menekankan perlunya relokasi warga ke tempat yang aman dan bantuan pekerjaan. Ia menegaskan bahwa lokasi longsor tersebut tidak boleh ditempati lagi dan harus direboisasi dengan tanaman keras untuk menguatkan struktur tanah.

“Kalau kembali akan longsor lagi, ini jadi pelajaran bagi daerah lain, untuk memperkuat tata ruang, daerah rawan ini harus kita petakan, setiap bupati wali kota gubernur, kita petakan secara nasional untuk kota memikirkan potensi kerawanan hidro meteorologi seperti ini hujan lebat, hujan deras,” ujar Tito.

Tito menambahkan bahwa tanah di lokasi longsor tersebut gembur dan subur, namun tidak kokoh untuk fondasi bangunan.

Skema Penanganan dan Relokasi Warga

Sebanyak 30 rumah di Kampung Pasir Kuda dan Pasir Kuning rata dengan tanah akibat longsor pada Sabtu (24/1/2026). Pemerintah pusat menyiapkan skema penanganan bagi warga di pengungsian sementara.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto Suharyanto menjelaskan ada dua opsi penanganan, yaitu pembangunan hunian sementara atau penempatan warga di rumah sanak saudara.

“Ada dua opsi yang disiapkan, yakni pembangunan hunian sementara atau penempatan warga di rumah sanak saudara, sebagaimana diterapkan pada penanganan bencana di daerah lain, termasuk di Sumatra,” kata Suharyanto, Minggu (25/1/2026).

Pemerintah juga menyiapkan skema relokasi bagi warga di kawasan rawan bencana. Relokasi dapat dilakukan secara terpusat maupun mandiri, dengan pemerintah daerah bertugas mencari lahan yang aman.

“Badan Geologi dan PVMBG dilibatkan untuk mengkaji serta menentukan titik wilayah yang aman untuk dihuni,” ujar Suharyanto.

Relokasi tidak hanya menyasar warga terdampak langsung, tetapi juga masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana.

“Wakil Presiden secara khusus menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menentukan tempat relokasi guna menghindari risiko bencana di kemudian hari,” tambah Suharyanto.

Pembahasan lengkap mengenai longsor Cisarua akan disajikan dalam program detikPagi edisi Senin (26/1/2026), termasuk update kondisi terkini dari lokasi kejadian bersama reporter di lapangan.

Advertisement