Wakil Presiden ke-13 RI, Ma’ruf Amin, memberikan apresiasi tinggi terhadap sosok almarhum KH Abdul Wahab Hasbullah. Menurut Ma’ruf, Kiai Wahab merupakan ulama langka yang tidak hanya alim tetapi juga memiliki visi kebangsaan yang kuat dan kecintaan mendalam terhadap negara.
Pujian ini disampaikan Ma’ruf Amin saat menghadiri acara bedah buku tentang Kiai Wahab yang diselenggarakan di Kementerian Haji dan Umrah, Jakarta Pusat, pada Sabtu (14/2/2026). Ia menekankan keunikan Kiai Wahab sebagai perpaduan antara seorang ulama dan negarawan.
Ulama dengan Visi Kebangsaan
“Jadi saya kira ini sesuatu yang, ulama tapi punya visi kebangsaan, cinta negara. Nah ini luar biasa,” ujar Ma’ruf Amin, menggambarkan betapa istimewanya sosok Kiai Wahab.
Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa Kiai Wahab memiliki pandangan yang jauh ke depan. Ia mendeskripsikan Kiai Wahab sebagai sosok yang alim, negarawan, politisi, organisator, dan pejuang. “Kita tidak bisa, berhari-hari pun tidak akan selesai kalau menceritakan beliau. Pasti panjang, karena beliau itu tokoh sulit dicari padanannya,” kata Ma’ruf.
Lebih lanjut, Ma’ruf Amin menyoroti pemikiran visioner dan responsif Kiai Wahab terhadap perkembangan zaman. Ia menyebutkan peran Kiai Wahab dalam memelopori Tashwirul Afkar, sebuah inisiatif pemetaan pemikiran yang bertujuan memperluas cakrawala pandangan terhadap berbagai gagasan yang berkembang saat itu, terutama di masa penjajahan.
Kontribusi Kiai Wahab untuk Gerakan Keagamaan dan Ekonomi
Selain itu, Ma’ruf Amin juga mengapresiasi keberanian Kiai Wahab dalam kebijakan pendidikan di era penjajahan. Ia juga memuji pendirian Nahdlatut Tujjar, sebuah gerakan kebangkitan para pedagang. Menurut Ma’ruf, langkah ini menunjukkan pemikiran strategis Kiai Wahab dalam memastikan pendanaan mandiri untuk gerakan-gerakan keagamaan tanpa bergantung pada pemerintah kolonial.
“Jadi karena dalam gerakan itu perlu pembiayaan dan tidak mungkin mendapatkan akses dari pemerintah Belanda, maka dibangunlah para pengusaha supaya bisa membiayai secara mandiri untuk gerakan-gerakannya. Ini menurut saya luar biasa, pikirannya luar biasa,” ungkapnya.
Peran Kiai Wahab dalam Pendirian Nahdlatul Ulama
Kontribusi Kiai Wahab dalam pendirian Nahdlatul Ulama (NU) juga menjadi sorotan. Ma’ruf Amin menyatakan bahwa Kiai Wahab adalah sosok penggerak utama di balik lahirnya NU. Ia mengaitkan pendirian NU dengan adanya perubahan cara berpikir keagamaan yang muncul saat itu, yaitu kecenderungan berpikir tekstualis (Fikrah Tekstualiyyah) atau yang disebut Imam Al-Farabi sebagai Al-Jumud alal Manqulat, yaitu statis pada teks-teks saja.
“Gerakan kembali ke Quran dan Hadits dan menghilangkan pendapat-pendapat bermadzhab ya. Ini muncul di Saudi, di Timur Tengah, yaitu tekstualisme,” jelas Ma’ruf.
Rujukan NU Menghadapi Tantangan Masa Depan
Ma’ruf Amin menilai pola pikir Kiai Wahab dapat menjadi referensi penting bagi NU dalam menghadapi tantangan 100 tahun kedua organisasi tersebut. Ia mengingatkan bahwa situasi saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu, dengan munculnya berbagai ancaman seperti radikalisme dan pemikiran ekstrem yang dapat mengganggu stabilitas keagamaan.
“Nah, 100 tahun ke depan, kalau kita melihat keadaan sekarang, tentu tidak lebih mudah, justru lebih gampang dari yang dulu. Sekarang ini tentu lebih kompleks. Oleh karena itu, dalam menghadapi 100 tahun kedua Nahdlatul Ulama, saya kira pola pikir yang dikembangkan oleh Hadratussyaikh Kiai Wahab Hasbullah ini, ini bisa menjadi rujukan kita,” ujar Ma’ruf.
Ia menambahkan bahwa untuk menjaga paham Ahlussunnah wal Jamaah, tantangan saat ini tidak hanya sebatas tekstualisme dan liberalisme, tetapi juga rasionalisme, bahkan radikalisme yang menyerupai gaya baru Khawarij.
Terakhir, Ma’ruf Amin mengapresiasi buku karya Kiai Mu’min tentang pola pikir, kiprah, dan kehidupan Kiai Wahab. Ia berharap buku tersebut dapat menginspirasi lahirnya kembali semangat meneladani Kiai Wahab di abad kedua NU. “Oleh karena itu tulisan Pak Mu’min ini, Kiai Mu’min ini tentang Kiai Wahab, ini saya kira satu penulisan buku yang menurut saya luar biasa dan bisa menginspirasi kita semua ya, untuk melahirkan kembali ‘Wahab-Wahab Hasbullah’ abad kedua Nahdlatul Ulama,” tutupnya.






