Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memuji Presiden Prabowo Subianto sebagai sosok yang memiliki orientasi masa depan kuat dan mampu membaca tanda-tanda zaman. Pujian ini disampaikan Nasaruddin terkait langkah Indonesia bergabung dengan Board of Peace atau Dewan Perdamaian yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Sosialisasi dan Respons Positif
Nasaruddin menjelaskan bahwa Kementerian Agama (Kemenag) aktif menyosialisasikan keputusan Presiden Prabowo tersebut kepada masyarakat luas. Kemenag bahkan telah menyelenggarakan seminar internasional dan menyusun makalah ilmiah untuk menerjemahkan pernyataan Prabowo.
“Makalah itu diberikan kepada mereka yang membutuhkan informasi. Hal tersebut mendapat respons positif bagi para pembaca. Dan kita kirimkan ke beberapa komponen yang sangat memerlukan informasi itu,” ujar Nasaruddin di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Ia menambahkan, “Dan ini saya kira hasilnya luar biasa ya. Banyak tadinya yang salah paham. Tetapi, begitu membaca hasil seminar yang dikemukakan oleh para tokoh, para ulama, dan para pakar, akhirnya oh iya.”
Prabowo Dinilai Visioner
Dari upaya sosialisasi tersebut, Nasaruddin menilai Prabowo memiliki orientasi masa depan yang luar biasa. “Ternyata Bapak Presiden future oriented-nya itu dahsyat gitu ya. Dan kita bersyukur Bapak Presiden mampu membaca tanda-tanda zaman ke depan begitu cepat. Mudah-mudahan ini adalah jalan yang terbaik untuk bangsa kita karena posisi Indonesia itu kan sekarang ini sangat sangat sangat penting,” ungkapnya.
Analogi Perjanjian Hudaibiyah
Nasaruddin kemudian menarik analogi dengan Perjanjian Hudaibiyah, sebuah perjanjian damai antara Nabi Muhammad SAW dan kaum Quraisy di Makkah. Ia melihat langkah Prabowo serupa dengan perjanjian tersebut, yang pada awalnya menimbulkan kesalahpahaman namun akhirnya membawa kebaikan.
“Dan apa yang dilakukan oleh Pak Prabowo, itu sebetulnya mengingatkan kita kepada dulu ada Perjanjian Hudaibiyah yang dilakukan Rasulullah,” ujarnya.
“Banyak sekali sahabat yang salah paham. Tapi, setelah melihat hasilnya, alhamdulillah ini yang terbaik ternyata untuk dunia Islam pada waktu itu ya,” lanjut Nasaruddin.
Harapan untuk Indonesia
Oleh karena itu, Nasaruddin mengajak masyarakat Indonesia untuk berprasangka baik (husnuzan) terhadap keputusan Indonesia bergabung dengan Board of Peace. Ia berharap langkah ini akan semakin memperkuat posisi strategis Indonesia di kancah internasional.
“Nah, kita berharap semoga Bapak Presiden melalui doanya para ulama, doanya warga masyarakat, Indonesia akan semakin memiliki posisi penting dalam dunia internasional,” pungkasnya.






