Jakarta – Polda Metro Jaya bersama Polres Metro Jakarta Pusat menunjukkan pelayanan humanis kepada massa Perkumpulan Guru Madrasah (PGM) yang menggelar unjuk rasa di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Rabu (11/2/2026) siang. Sejumlah polisi terlihat membagikan air mineral dan roti kepada para peserta aksi di tengah cuaca yang cukup terik.
Para guru yang berdemonstrasi menyambut baik inisiatif ini dan menyampaikan apresiasi kepada pihak kepolisian. Hingga berita ini diturunkan pada pukul 11.38 WIB, massa guru masih berkumpul di depan gedung DPR. Situasi lalu lintas di sekitar lokasi terpantau ramai lancar tanpa penutupan jalan.
Kepedulian Polri dalam Menjamin Kenyamanan Peserta Aksi
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Budi Hermanto, menyatakan bahwa pelayanan humanis ini merupakan wujud kepedulian Polri dalam menjamin kenyamanan para peserta aksi unjuk rasa. Menurutnya, pembagian air mineral dan roti dilakukan untuk membantu mendinginkan suasana dan memastikan kebutuhan dasar massa terpenuhi di bawah terik matahari.
“Kita ingin menunjukkan bahwa kehadiran petugas di lapangan bukan hanya untuk pengamanan, tetapi juga untuk melayani dan merangkul masyarakat. Dengan berbagi makanan dan minuman, kami berharap terjalin komunikasi yang baik sehingga aksi dapat berjalan tertib, damai, dan penuh semangat persaudaraan,” ujar Budi Hermanto.
1.060 Personel Gabungan Amankan Aksi dengan Pendekatan Humanis
Dalam pengamanan unjuk rasa PGM Indonesia di depan gedung MPR/DPR RI, Polres Metro Jakarta Pusat mengerahkan sebanyak 1.060 personel gabungan. Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol. Reynold EP Hutagalung, menekankan pentingnya pendekatan persuasif, dialogis, dan humanis dalam setiap tindakan personel.
“Seluruh personel harus utamakan pendekatan persuasif, dialogis dan humanis,” kata Kombes Reynold, seperti dilansir Antara. Ia menjelaskan bahwa personel yang diturunkan merupakan gabungan dari Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat, serta jajaran polsek untuk memastikan penyampaian pendapat berjalan aman, tertib, dan kondusif.
Lebih lanjut, Kombes Reynold menegaskan bahwa personel tidak dibekali senjata api dan diinstruksikan untuk selalu mengedepankan sikap humanis serta profesional. Kehadiran aparat semata-mata bertujuan untuk melayani masyarakat dan menjamin hak konstitusional warga negara dalam menyampaikan aspirasi secara damai.
“Personel tidak membawa senjata api dan diperintahkan untuk selalu mengedepankan sikap humanis, persuasif dan profesional,” tegasnya. Ia juga mengimbau para orator dan peserta aksi untuk menjaga ketertiban, tidak memprovokasi massa lain, tidak menutup jalan umum, serta tidak melakukan tindakan anarkis seperti membakar ban bekas atau merusak fasilitas umum. Rekayasa lalu lintas akan bersifat situasional, disesuaikan dengan eskalasi massa di lapangan.






