Berita

Polda Metro Jaya Tingkatkan Patroli Jelang Ramadan, Fokus Berantas Tawuran dan Kriminalitas Jalanan

Advertisement

Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya secara resmi menggelar Operasi ‘Pekat Jaya 2026’. Operasi ini dirancang untuk meningkatkan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di wilayah hukumnya, dengan sasaran utama menekan angka kriminalitas jalanan, termasuk aksi tawuran dan aktivitas geng motor.

Operasi Pekat Jaya 2026: 14 Hari Pengamanan

Operasi Pekat Jaya 2026 akan berlangsung selama 14 hari, dimulai sejak Rabu, 28 Januari 2026, hingga 11 Februari 2026. Pelaksanaan operasi ini diawali dengan apel pasukan yang dipimpin langsung oleh Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Asep Edi Suheri. Ratusan personel dikerahkan untuk memastikan Jakarta dan sekitarnya, meliputi Bekasi, Tangerang, dan Depok, tetap kondusif selama periode krusial menjelang dan awal Ramadan.

675 Personel Dikerahkan dengan Pendekatan Humanis dan Profesional

Sebanyak 675 personel dikerahkan untuk mengamankan wilayah hukum Polda Metro Jaya. Irjen Pol Asep Edi Suheri menegaskan bahwa operasi ini merupakan wujud dari tugas pokok Polri dalam memelihara Kamtibmas dan menegakkan hukum. Ia juga menjamin bahwa seluruh pelaksanaan operasi akan dilakukan secara humanis dan profesional.

“Melalui operasi ini, Polri akan melaksanakan penegakan hukum secara tegas terhadap berbagai bentuk premanisme, kekerasan jalanan, dan tindak pidana lainnya. Namun demikian, setiap tindakan di lapangan harus dilaksanakan secara profesional proporsional, sesuai prosedur,” ujar Irjen Pol Asep Edi Suheri.

Sasaran Utama: Tawuran, Geng Motor, dan Penyakit Masyarakat

Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri mengidentifikasi adanya kecenderungan peningkatan gangguan Kamtibmas menjelang Ramadan. Oleh karena itu, fokus operasi diarahkan pada pencegahan dan penindakan terhadap tawuran, aksi keributan geng motor, premanisme, serta kejahatan jalanan lainnya.

“Menjelang bulan Ramadan gangguan Kamtibmas cenderung mengalami peningkatan, terutama berupa tawuran, aksi keributan geng motor, aktivitas premanisme serta berbagai bentuk kejahatan jalanan lainnya,” jelas Irjen Asep Edi Suheri.

Ia menambahkan bahwa beberapa faktor seperti konsumsi minuman keras, provokasi melalui media sosial, dan tekanan sosial ekonomi yang meningkat menjelang Ramadan turut memicu potensi gangguan keamanan.

Advertisement

Patroli Intensif di Daerah Rawan

Personel yang bertugas akan difokuskan pada daerah-daerah yang teridentifikasi rawan kejahatan dan tawuran. Wilayah seperti Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan, termasuk kawasan perbatasan, akan menjadi prioritas penempatan pos pantau dan patroli gabungan.

“Nanti kita akan fokus di wilayah hukum Jakarta Pusat, Jakarta Timur, yang sering, termasuk Jakarta Selatan. Itu yang wilayah perbatasan akan kita tempatkan pos pantau dan juga mobile dari patroli gabungan,” ungkap Irjen Asep.

Selain itu, upaya pencegahan juga dilakukan dengan mendatangi sekolah-sekolah untuk memberikan imbauan kepada siswa agar tidak terlibat dalam aksi tawuran. Patroli siber juga digencarkan untuk memantau aktivitas di dunia maya yang berpotensi memicu kericuhan.

Irjen Asep menekankan pentingnya personel untuk memahami karakteristik wilayah tugas, meningkatkan kewaspadaan, dan responsif terhadap setiap perkembangan situasi. Ia juga mengingatkan agar mengedepankan pendekatan yang humanis dan orientasi pelayanan.

“Pahami karakteristik wilayah tugas dan tingkatkan kewaspadaan, serta responsif terhadap setiap perkembangan situasi di lapangan. Kedepankan pendekatan yang humanis dan orientasi pelayanan, sehingga pelayanan polisi benar-benar dirasakan sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat,” tutupnya.

Advertisement