Polisi masih mendalami motif seorang siswa kelas IX SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kubu Raya, Kalimantan Barat, yang melempar bom molotov di lingkungan sekolah. Berdasarkan pendalaman sementara, aktivitas remaja tersebut di sekolah terbilang normal. Namun, tekanan dari lingkungan keluarga diduga menjadi pemicu utama, yang diperparah oleh kebiasaan bermain gim tembak-tembakan di gawainya.
Motif dan Faktor Pemicu
Kapolda Kalimantan Barat, Irjen Pipit Rismanto, menjelaskan bahwa hasil pendalaman menunjukkan siswa tersebut memiliki cita-cita yang jelas untuk menjadi mekanik. “Kami tanyakan hobinya, ternyata dia gemar bermain game tembak-tembakan. Di sisi lain, anak ini punya cita-cita yang jelas, ingin menjadi mekanik. Artinya dia sebenarnya punya tujuan hidup,” ujar Pipit, dilansir detikKalimantan, Rabu (4/2/2026).
Pipit menegaskan bahwa kepolisian tidak melihat gim sebagai penyebab tunggal. Kasus ini merupakan kombinasi dari tekanan psikis, kurangnya pengawasan, dan belum tertatanya penyaluran minat anak secara positif.
Pendekatan Hukum dan Pembinaan
Penanganan kasus ini mengedepankan prinsip ultimum remedium, di mana proses hukum menjadi langkah terakhir. Fokus utama saat ini adalah pembinaan, pendampingan psikologis, serta pemulihan kondisi keluarga.
“Anak ini masih bisa dibina. Akar masalahnya harus diselesaikan dulu agar peristiwa serupa tidak terulang,” tegas Pipit.
Tekanan Psikologis Keluarga
Pipit menjelaskan bahwa pelemparan bom molotov tersebut dipicu oleh berbagai faktor psikologis dan lingkungan keluarga. “Kami mendalami akar masalahnya. Ternyata ada tekanan psikis yang cukup berat. Kakek dan ayahnya sedang sakit, dan ini berpengaruh besar terhadap kondisi mental anak,” ungkapnya.






