MAGELANG – Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono mendorong masyarakat di kawasan Borobudur, Jawa Tengah, untuk serius menekuni pelatihan kerajinan anyaman berbahan eceng gondok. Keterampilan ini diharapkan dapat membuka peluang ekonomi baru dan meningkatkan penghasilan warga secara berkelanjutan.
Program Pemberdayaan Ekonomi
Program pemberdayaan kelompok rentan ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Sosial, Pemerintah Kabupaten Magelang, dan PT Out of Asia. Tujuannya adalah untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat desa.
“Dengan kita latihan ini, kita ingin berhijrah. Berhijrah dari kemarin-kemarin yang belum punya pendapatan, mudah-mudahan nanti dengan kita membikin anyaman yang kemudian menjadi tempat sampah, kemudian menjadi tali dan lain-lain, itu akan menjadikan kita punya penghasilan,” kata Agus Jabo, dalam keterangan tertulis, Jumat (13/2/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan saat ia meninjau langsung pelatihan di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Bumiharjo, Magelang, pada Kamis (12/2). Agus Jabo menegaskan bahwa Presiden Prabowo ingin seluruh masyarakat Indonesia berdaya dan mandiri.
“Apa mandiri itu? Seluruh rakyatnya bisa punya penghasilan sendiri, punya pendapatan sendiri. Supaya apa? Supaya iso (bisa) tersenyum, iso gemuyu (bisa tertawa), iso seneng uripe (bisa senang hidupnya), rumah tanggane rukun, anake iso sekolah (anaknya bisa sekolah), yen wis wafat munggah suwargo (yang sudah wafat naik ke surga),” jelasnya.
Pelatihan tahap awal ini melibatkan warga dari tiga kecamatan: Kajoran, Salaman, dan Borobudur. Agus Jabo mendorong peserta untuk mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh agar keterampilan yang diperoleh dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Jadi Pak Presiden tidak ingin rakyatnya susah. Pak Presiden ingin rakyatnya bisa gemuyu, Pak Presiden ingin supaya rakyatnya bisa hidup makmur, hidup sejahtera, bahagia lahir dan batin. Saya mohon panjenengan (bapak-ibu) serius,” ungkapnya.
“Ini baru awal-awal. Mudah-mudahan nanti bisa berkembang dan bisa melibatkan saudara-saudara kita yang lain,” tambahnya.
Dukungan Usaha Sablon
Setelah meninjau pelatihan kerajinan anyaman eceng gondok, Agus Jabo juga mengunjungi rumah produksi sablon milik kelompok masyarakat (pokmas) ‘Karyaku’ di Desa Karanganyar, Borobudur. Usaha ini menerima bantuan dua unit mesin sablon dari Kementerian Sosial.
Salah satu produk unggulan rumah produksi tersebut adalah kaos oblong. Dalam kunjungannya, Agus Jabo menerima dua kaos sebagai cinderamata: satu berwarna putih bergambar karikatur wajahnya, dan satu lagi berwarna hitam dengan ilustrasi wajah Pangeran Diponegoro.
“Ini contohnya, hasil karya dari masyarakat Borobudur. Kita berharap ini sebagai embrio, sebagai langkah awal mudah-mudahan dengan dua mesin ini nanti kita bisa berkembang menjadi besar, supaya masyarakat, khususnya di Karanganyar maupun di Kecamatan Borobudur bisa makmur karena mereka bisa bekerja, mendapatkan penghasilan dan Borobudur pada akhirnya memberikan dampak ekonomis kepada masyarakat yang ada di sekitar Borobudur,” ujarnya.
Agus Jabo tampak senang menerima hadiah tersebut dan langsung mengenakan kaos hitam bergambar Pangeran Diponegoro sebagai bentuk apresiasi.
Harapan Pengentasan Kemiskinan
Camat Borobudur, Subiyanto, menyambut baik pelatihan tersebut. Ia berharap program pemberdayaan ini dapat membantu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah Borobudur.
“Semoga ini menjadi langkah taktis dan strategis dalam mengentaskan kemiskinan warga kami. Besar harapan kami, pelatihan ini menjadi pemantik, menggeliat dan berkembangnya pemberdayaan masyarakat, pertumbuhan ekonomi masyarakat di wilayah kami,” kata Subiyanto.
Peluang Pasar Internasional
Direktur Operasional PT Out of Asia, Arung Lusika, menjelaskan bahwa permintaan produk anyaman berbahan eceng gondok tergolong tinggi dan telah merambah pasar internasional. Hal ini menunjukkan peluang ekonomi yang menjanjikan bagi para perajin lokal.
“Monggo, diseriusi. Kalau diperlukan, saya akan support wilayah Borobudur. Resourcenya sudah ada, kemampuannya sudah ada, tinggal kita berpikir bagaimana melahirkan produk yang bisa diserap di pasar ekspor internasional,” ujar Arung.
Pelatihan serupa sebelumnya juga telah dilaksanakan di Kalisalak, Kebasen, Banyumas, dan Wonosari. Arung menambahkan, semangat peserta di Borobudur kali ini melebihi pelatihan-pelatihan sebelumnya.






