Cilacap, Jawa Tengah – Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menimipas) Agus Andrianto bersama Komisi XIII DPR RI meninjau langsung sarana pembinaan narapidana (napi) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, pada Selasa (10/2/2026). Salah satu fokus peninjauan adalah kolam budidaya Ikan Sidat yang dikembangkan sebagai program keterampilan bagi warga binaan.
Program Pemberdayaan Ganda
Menteri Agus Andrianto menjelaskan bahwa pelatihan budidaya Ikan Sidat ini memiliki dua tujuan utama: membekali napi dengan keterampilan yang berguna saat bebas nanti, serta menghidupkan kembali komunitas nelayan di sekitar Nusakambangan. Pihak Lapas Nusakambangan diketahui membeli bibit sidat langsung dari para nelayan setempat.
Ikan sidat, yang dikenal kaya akan vitamin, protein, dan Omega-3, merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi. Di Jepang, olahan sidat yang dikenal sebagai Unagi adalah hidangan favorit.
Dialog dengan Pegiat dan Legislator
Dalam kunjungannya, anggota Komisi XIII DPR RI, Yanuar Arif Wibowo, sempat bertanya kepada pegiat budidaya sidat, Rudi Sutomo, mengenai sumber bibit yang digunakan. Rudi, yang merupakan mitra pendamping pelatihan napi, menjelaskan bahwa bibit sidat berasal dari koperasi nelayan.
“Pembibitannya dari mana?” tanya Yanuar.
“Dari koperasi,” jawab Rudi.
Yanuar kemudian menanyakan kapasitas tampung bibit per kolam. Rudi memaparkan bahwa satu kolam yang terletak di dekat bibir pantai tersebut mampu menampung sekitar 6.000 bibit ikan sidat.
“Kolam isi 6.000 bibit, Pak,” ujar Rudi.
Dampak Ekonomi bagi Nelayan
Menteri Agus Andrianto menegaskan komitmennya untuk memberdayakan komunitas nelayan lokal melalui program ini. Ia berharap budidaya sidat dapat memberikan efek ekonomi positif yang signifikan bagi para nelayan.
“Komunitas nelayan biar hidup, warga binaan tambah pengetahuan agar saat keluar bisa menerapkan budi daya ikan juga,” jelas Menteri Agus.
Potensi Kolaborasi dan Penyerapan Tenaga Kerja
Usai meninjau kolam, rombongan legislator diajak mencicipi olahan ikan sidat yang telah disiapkan, mulai dari yang dibakar sederhana hingga yang disajikan dengan saus ala Jepang.
Legislator Marinus Gea kemudian mengajukan pertanyaan mengenai kemungkinan tim dari Nusakambangan memberikan pelatihan budidaya sidat kepada pihak eksternal yang memiliki lahan. Ia juga mengusulkan agar pihak yang menerima pelatihan dapat menyerap mantan napi yang telah terlatih sebagai pekerja.
“Saya mau bertanya, idenya sangat bagus, penjelasan komprehensif, di antara teman-teman ini seperti jadi punya inspirasi bagaimana mengembangkan budidaya ini. Bagaimana jika butuh pelatihannya untuk nanti proses ini bisa terjadi? Sehingga teman-teman (warga binaan pemasyarakatan) yang keluar dari Nusakambangan bisa ditampung di pihak-pihak luar yang punya lahan untuk dikembangkan?” tanya Marinus.
Usulan ini disambut baik oleh Menteri Agus dan jajarannya. Mereka menyatakan kesediaan untuk membantu pelatihan, terutama jika pengembangan budidaya sidat di luar Nusakambangan dapat membuka lapangan pekerjaan baru, khususnya bagi para mantan warga binaan.






